Faisal juga menyebut tidak seluruh wilayah Indonesia akan merasakan dampak El Nino secara merata. Wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa diperkirakan mengalami dampak paling signifikan berupa musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang.
“Dan kita melihat bahwa tidak seluruh wilayah Indonesia terpengaruh langsung oleh El Nino. Yang sangat signifikan dipengaruhi oleh El Nino adalah daerah Indonesia di bawah garis khatulistiwa atau bagian selatan Indonesia. Itulah daerah yang akan mengalami musim kering, musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang periodenya dibanding rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir,” katanya.
Lebih lanjut, Faisal mengingatkan perkembangan El Nino masih berpotensi terus menguat sehingga seluruh pemangku kepentingan perlu meningkatkan kewaspadaan.
“Perkembangan El Nino masih berpotensi terus menguat dan dapat mencapai kategori kuat. Dan juga apabila kondisi tersebut terjadi, Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dengan curah hujan yang umumnya rendah sampai sangat rendah seperti yang akan kita alami di bulan Agustus dan September. Sehingga dipandang perlu adanya peringatan dini untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mempercepat langkah antisipasi,” ujar dia.
Menurut Faisal, dampak El Nino tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, sektor energi, kesehatan, kelautan, hingga perekonomian masyarakat. Karena itu, diperlukan koordinasi lintas sektor agar berbagai langkah mitigasi dapat dilakukan sejak dini.
(Dhera Arizona)