Cuaca panas yang meningkat diperkirakan akan mendorong lonjakan konsumsi listrik untuk pendinginan, sementara produksi listrik tenaga air justru berpotensi menurun akibat berkurangnya curah hujan. Negara-negara yang mengandalkan pembangkit listrik tenaga air menjadi yang paling rentan menghadapi kondisi ini.
Di sektor pertanian, El Nino berpotensi memperburuk tekanan yang sudah ada akibat kenaikan biaya pupuk dan bahan bakar. Jika harga hasil panen tidak mampu menutup kenaikan biaya produksi, maka risiko penurunan penggunaan pupuk dan melemahnya hasil panen akan meningkat. Kondisi ini dapat memicu inflasi pangan serta memperburuk ketahanan pangan, terutama di negara yang bergantung pada impor.
Selain kekeringan, beberapa wilayah di Asia juga berpotensi mengalami hujan lebat ekstrem yang dapat memicu banjir dan mengganggu produksi pangan, termasuk panen padi di China bagian selatan.
Para ahli menilai ketidakpastian masih menyelimuti prospek El Nino, namun langkah antisipasi tetap diperlukan. Negara-negara di kawasan didorong untuk memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi dan percepatan penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, yang dinilai lebih adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem.
(Reporter: Sheqilla Sukma) (Wahyu Dwi Anggoro)