Deformasi internal yang merobek bagian dalam lempeng penunjam inilah yang kemudian melepaskan gelombang seismik berfrekuensi tinggi, memancarkan guncangan tanah yang merusak yang merambat dengan sangat efisien hingga menghantam infrastruktur di permukaan.
"Energi seismik yang dilepaskan merambat melalui slab litosfer tersubduksi yang bersifat kaku, padat, dan relatif dingin. Kondisi material ini menghasilkan tingkat atenuasi gelombang yang sangat rendah, sehingga transmisi energi berfrekuensi tinggi tersebar berlangsung secara efisien," katanya.
Efisiensi perambatan gelombang tersebut menyebabkan guncangan tanah yang dihasilkan di permukaan cenderung jauh lebih kuat dan destruktif dibandingkan gempa interplate dengan magnitudo setara. Selain itu, posisi hiposenter di kedalaman menengah memberikan ruang jangkauan pancaran gelombang seismik dengan sudut cakupan yang luas.
"Fenomena ini memicu spektrum guncangan yang lebar (felt area masif) hingga radius ratusan kilometer dari episenter, meskipun di sisi lain karakteristik kedalaman ini tidak memicu ancaman gelombang tsunami," ujar Daryono.
Dampak perambatan gelombang geser (S-wave) dan gelombang permukaan memicu Puncak Percepatan Tanah (Peak Ground Acceleration / PGA) yang tinggi di area terdampak. Gaya inersia mendadak ini bekerja langsung pada massa bangunan bertingkat serta struktur pasangan batu (unreinforced masonry), memicu fenomena lantai lemah (soft-story failure) akibat beban lateral yang melampaui kapasitas elemen penopang utama seperti shear wall atau moment frame.