sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Istana Beberkan Penyebab Banjir Jabodetabek: Dulu Punya 1.000 Situ, Sekarang Sisa 200

News editor Binti Mufarida
22/01/2026 18:45 WIB
Istana menyoroti berkurangnya jumlah situ, danau, atau telaga di wilayah Jabodetabek yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah tangkapan air alami.
Istana Beberkan Penyebab Banjir Jabodetabek: Dulu Punya 1.000 Situ, Sekarang Sisa 200 (FOTO:Dok Ist)
Istana Beberkan Penyebab Banjir Jabodetabek: Dulu Punya 1.000 Situ, Sekarang Sisa 200 (FOTO:Dok Ist)

IDXChannel - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan penyebab banjir di wilayah Jabodetabek tidak hanya dipicu oleh tingginya curah hujan, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor struktural, termasuk perubahan tata ruang dan kerusakan lingkungan.

Prasetyo menjelaskan, meski faktor cuaca berperan besar, terutama karena tingginya intensitas hujan pada puncak musim hujan akhir Januari, pemerintah menilai persoalan banjir jauh lebih kompleks.

“Tentunya itu hanya salah satu ya. Faktor cuaca, tingginya curah hujan di bulan basah akhir Januari ini memang cukup tinggi. Tetapi kita tentu menyadari bahwa ini tidak sekadar faktor cuaca. Bagaimana perubahan tata ruang juga di situ berpengaruh, bagaimana pendangkalan-pendangkalan aliran daerah-daerah aliran sungai itu juga berpengaruh,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Ia juga menyoroti berkurangnya jumlah situ, danau, atau telaga di wilayah Jabodetabek yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah tangkapan air alami.

Berdasarkan data, jumlah situ di kawasan tersebut menyusut drastis dalam beberapa dekade terakhir.

“Termasuk data mengatakan bahwa wilayah Jabodetabek ini dulunya memiliki kurang lebih 1.000 situ atau danau atau telaga yang itu menjadi reservoir-reservoir daerah tangkapan air. Nah, menurut data terakhir, hari ini kurang lebih hanya tinggal tersisa 200 situ. Ini tentunya menjadi perhatian kita bersama-sama,” katanya.

Kondisi tersebut, menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto. Kepala Negara pun meminta pembentukan tim lintas kementerian dan lembaga untuk mempercepat penanganan banjir secara menyeluruh.

“Oleh karenanya tadi Bapak Presiden menghendaki untuk tim ini bekerja dengan cepat. Dimintalah Bappenas, kemudian Kemenko Infra, tentu nanti dengan PU, kemudian dengan ATR/BPN, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kemendagri,” tuturnya.

Prasetyo menekankan, persoalan banjir bersifat lintas wilayah dan lintas provinsi, sehingga membutuhkan koordinasi terpadu dari hulu hingga hilir. “Karena ini lintas provinsi untuk secepatnya mencari dan menganalisa supaya ke depan dapat kita selesaikan secara menyeluruh begitu, baik dari hulu sampai ke hilirnya,” kata dia.

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement