IDXChannel - Bank Indonesia (BI) tampak cukup optimistis dengan fundamental ekonomi nasional. Tren positif sejumlah indikator makro dinilai dapat mengerek naik posisi rupiah.
"Saat ini kami sedang terus berusaha untuk membawa kembali rupiah, karena arah penguatannya sudah ada, fundamentalnya kalau dibandingkan dengan negara lain kita masih bisa lebih baiklah ya. Debt-to-GDP ratio kita terkendali," kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam acara diskusi di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Sejalan dengan itu, Destry mengatakan cadangan devisa juga tinggi di angka 156,5 miliar dolar AS akhir 2025. Selain itu, defisit juga terjaga levelnya di bawah 3 persen. Kondisi makro Indonesia disebutnya cukup baik dibanding negara-negara berkembang.
"Jadi artinya disiplin-disiplin fiskal moneter itu semua terjaga, sehingga tentunya nilai tukar itu juga ada ruang dia untuk mengalami penguatan dalam jangka panjang. Nah, kami di sini juga menjalankan berbagai kebijakan dengan menggunakan tools yang kami miliki menjaga stabilitas rupiah itu sendiri," ujar Destry.
Intervensi BI berupa suku bunga yang dikontrol juga turut bagian dalam mempertahankan basis ekonomi. Teranyar, bank sentral melalui Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada Januari 2026.