IDXChannel - Pemerintah Jepang dikabarkan menginstruksikan fasilitas penyimpanan cadangan minyak nasional untuk bersiap melepas stoknya.
Dilansir dari Reuters pada Senin (9/3/2026), perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel mengurangi pasokan minyak dari Timur Tengah.
Sekitar 95 persen minyak mentah Jepang berasal dari Timur Tengah, dengan sekitar 70 persen di antaranya dikirim melalui Selat Hormuz.
Jalur pelayaran penting itu secara efektif telah ditutup sejak perang pecah.
Akira Nagatsuma adalah anggota parlemen dari Aliansi Reformasi Sentris, sebuah partai oposisi. Menurutnya, Organisasi Jepang untuk Keamanan Logam dan Energi di Pangkalan Penyimpanan Minyak Nasional Shibushi telah menerima arahan tersebut pekan lalu dari Badan Sumber Daya Alam dan Energi.
Nagatsuma menyatakan bahwa detail seperti waktu pelepasan masih belum jelas. Tidak jelas juga apakah pangkalan penyimpanan lain telah menerima instruksi yang sama.
Shibushi, yang terletak di Jepang selatan, adalah tempat cadangan minyak strategis Jepang berada.
Jepang memiliki cadangan minyak darurat yang setara dengan 254 hari konsumsi domestik. Ini termasuk cadangan pemerintah dan persediaan sektor swasta serta cadangan bersama dengan negara-negara penghasil minyak.
Penarikan minyak terakhir Tokyo dari cadangannya adalah pada 2022, sebagai bagian dari pelepasan terkoordinasi yang dipimpin oleh Badan Energi Internasional (IEA) di tengah invasi Rusia ke Ukraina.
Menteri Perindustrian Ryosei Akazawa mengatakan dalam pernyataan awal pekan lalu bahwa pemerintahannya tidak akan melepaskan cadangan minyak. Namun, Tokyo akan memantau pasokan minyak mentah secara ketat, bekerja sama dengan IEA.
Kantor Berita Kyodo melaporkan pada Jumat bahwa pemerintah Jepang mungkin akan menggunakan sebagian cadangan minyaknya untuk mengatasi krisis Iran, yang telah mengganggu pasokan energi di seluruh dunia. Hal ini dapat dilakukan dalam koordinasi dengan negara lain atau secara mandiri. (Wahyu Dwi Anggoro)