sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Khamenei Serukan Persatuan Pemimpin Negara Teluk, Selat Hormuz Masih Ditutup

News editor Febrina Ratna Iskana
31/08/2026 00:01 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mendesak para pemimpin negara-negara Teluk untuk bersatu melawan "musuh sejati" yaitu Amerika Serikat.
Khamenei Serukan Persatuan Pemimpin Negara Teluk, Selat Hormuz Masih Ditutup. (Foto: News Agency)
Khamenei Serukan Persatuan Pemimpin Negara Teluk, Selat Hormuz Masih Ditutup. (Foto: News Agency)

IDXChannel - Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mendesak para pemimpin negara-negara Teluk untuk bersatu melawan apa yang disebutnya sebagai "musuh sejati" mereka, yaitu Amerika Serikat (AS). Ia menyampaikan pesan tertulis yang jarang terjadi ini di tengah perang yang telah berlangsung selama enam bulan dan terus membebani hubungan di kawasan tersebut.

Berdasarkan laporan Reuters pada Minggu (30/8/2026), Khamenei menyerukan kepada negara-negara Muslim, khususnya negara-negara Teluk, untuk memperkuat kerja sama dan pertahanan bersama, dengan alasan bahwa perpecahan di antara bangsa-bangsa Muslim hanya menguntungkan pihak lawan.

"Saran tegas dan berulang saya kepada para penguasa negara-negara Islam, terutama negara-negara di Asia Barat dan Teluk, adalah untuk mengenali musuh sejati Anda, memahami rencananya, dan menghadapinya," ujarnya.

Pesan tersebut, yang diterbitkan di akun telegramnya dalam rangka Pekan Persatuan Islam, menyusul seruan serupa yang ditujukan kepada rakyat Iran pada Jumat, ketika Khamenei mendesak pihak berwenang untuk menghindari pernyataan yang dapat melemahkan semangat publik.

Khamenei belum muncul di hadapan publik sejak terluka dalam serangan udara AS-Israel enam bulan lalu—serangan yang memicu konflik saat ini dan menewaskan ayah sekaligus pendahulunya, Ayatollah Ali Khamenei.

Seruannya muncul di tengah ketegangan yang terus berlanjut antara Teheran dan pemerintah negara-negara Teluk. Iran telah menyerang fasilitas militer AS dan infrastruktur lainnya di negara-negara Teluk selama konflik berlangsung, sehingga mempersulit upaya membangun persatuan kawasan yang didorong oleh Khamenei.

Secara terpisah, Iran terus menutup Selat Hormuz, yang mempertahankan tekanan terhadap pasar energi global. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan bahwa Teheran tidak terburu-buru untuk membuka kembali jalur air strategis tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran juga menyatakan bahwa mereka tetap memegang kendali penuh atas selat tersebut; mereka menolak pernyataan AS mengenai akses pelayaran dan menuduh Washington berupaya memengaruhi harga energi.

Penutupan ini tetap menjadi salah satu risiko terbesar perang tersebut terhadap pasokan minyak global, mengingat Hormuz merupakan jalur vital bagi ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari kawasan Teluk.

Upaya diplomatik sejauh ini belum membuahkan terobosan. Irak telah menawarkan diri untuk menjadi jembatan penghubung antara Teheran dan Washington, di saat pemerintahan Trump meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Perkembangan terbaru ini terjadi setelah konflik berlangsung sekitar enam bulan, di mana Teheran menghadapi sanksi AS yang semakin diperketat serta tekanan militer dan ekonomi yang terus berlanjut. (Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement