MTI memandang, kenaikan harga energi global berdampak langsung terhadap biaya transportasi, inflasi, dan daya beli masyarakat. Ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM juga memperbesar risiko, terutama karena sektor transportasi menjadi tulang punggung mobilitas dan distribusi barang.
Di sisi lain, struktur transportasi nasional dinilai masih didominasi kendaraan pribadi, sementara layanan angkutan umum belum berkembang merata, khususnya di kota menengah dan wilayah perdesaan. Kondisi ini menyebabkan tingginya konsumsi energi serta rendahnya efisiensi sistem transportasi.
MTI pun mendorong pemerintah untuk melakukan peralihan sistem transportasi menuju berbasis angkutan umum melalui sejumlah langkah strategis. Di antaranya adalah peningkatan kualitas dan keterjangkauan layanan transportasi publik, pengembangan sistem angkutan umum di kota menengah dan perdesaan, serta penguatan integrasi transportasi dengan sistem logistik nasional.
Selain itu, Haris juga menekankan pentingnya reorientasi subsidi energi dari BBM kendaraan pribadi menjadi subsidi untuk angkutan umum. Langkah ini dinilai tidak hanya berdampak pada efisiensi energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi berupa penurunan biaya transportasi masyarakat, pengurangan kemacetan, hingga penciptaan lapangan kerja.