Dalam jangka pendek, MTI mengusulkan sejumlah langkah cepat (quick wins), seperti pemberlakuan tarif nol atau gratis untuk angkutan umum massal di kota besar dalam periode tertentu, penambahan armada angkutan umum, serta penyediaan BBM khusus bagi angkutan umum.
MTI juga menilai kebijakan WFH perlu dievaluasi lebih lanjut karena berpotensi menimbulkan efek samping, seperti pergeseran aktivitas perjalanan ke kegiatan nonproduktif yang tetap mengonsumsi BBM.
“Perlu dilakukan simulasi dampak kebijakan untuk memastikan bahwa langkah yang diambil benar-benar menghasilkan efisiensi energi, bukan sekadar redistribusi mobilitas,” kata Haris.
Lebih jauh, MTI menekankan pentingnya pembelajaran dari praktik internasional, di mana sejumlah negara menerapkan kebijakan kombinatif seperti subsidi langsung atau tarif gratis angkutan umum, integrasi kebijakan transportasi dengan stimulus ekonomi, serta percepatan elektrifikasi transportasi publik.
"Krisis energi saat ini dapat menjadi momentum untuk membangun sistem transportasi nasional yang lebih baik ke depan,” ujar Haris.
(Dhera Arizona)