“Ketika kami pun mendapatkan informasi bahwa ada salah satu yang lolos adik-adik Paskibraka ini yang ternyata berasal dari Sekolah Rakyat, ya kita terus terang juga ikut bangga, ikut terharu bahwa ya itulah membuktikan bahwa siapa pun kita ini sebagai sesama anak bangsa manakala diberi kesempatan atau ada kesempatan, ada peluang atau ada sesuatu yang memungkinkan untuk ikut berpartisipasi, sudah tidak lagi kemudian membeda-bedakan kita ini berasal dari mungkin keluarga yang lebih mampu atau yang tidak mampu,” ujarnya.
Menurut Prasetyo, keberhasilan Ismi menunjukkan kesempatan yang sama dapat membuka peluang bagi siapa pun untuk berprestasi. Dia menegaskan proses seleksi Paskibraka dilakukan berdasarkan kompetensi dan kerja keras.
“Semua berbasis kompetensi, semua berbasis kerja keras. Tidak mudah lho, ya teman-teman. Coba lihat aja itu latihan terus menerus, kalau perlu kapan-kapan nanti kita dengan teman-teman media kita latihan baris-berbaris gitu ya. Betapa tidak mudahnya menjadi seorang Paskibraka, apalagi tingkat nasional. Itu baru secara fisik, belum secara mental,” katanya.
Prasetyo menilai menjadi anggota Paskibraka tingkat nasional bukanlah tugas yang mudah. Para anggota Paskibraka dituntut mampu menjalankan tugas dengan sempurna di hadapan masyarakat Indonesia.