Pria yang pernah menjabat sebagai Kapolri ini mengatakan, jajarannya di Kemendagri secara rutin mengevaluasi rancangan peraturan daerah dan rancangan peraturan kepala daerah. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan substansi aturan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
“Karena kalau sudah di-approve, ini akan memberikan dampak kepada masyarakat. Dalam konteks itu kami selalu berhubungan dengan Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Hukum dan kemudian juga dengan Sekjen, terutama mengenai masalah harmonisasi. Harmonisasi apakah sesuai dengan aturan-aturan di atasnya,” kata dia.
Menurut Tito, harmonisasi regulasi juga membutuhkan koordinasi lintas lembaga, termasuk dengan Kementerian Hukum dan Kejaksaan Agung. Dia mengapresiasi kerja sama yang telah berjalan dalam membantu pemerintah daerah menyusun produk hukum.
Dia menyebut koordinasi antara Kemendagri dan Kementerian Hukum juga dilakukan melalui pertemuan rutin untuk menyelaraskan pekerjaan kantor wilayah Kementerian Hukum dengan pemerintah daerah dan DPRD.
“Kemudian kami harapkan kerja sama lintas, lembaga dan kepala-kepala daerah juga dapat bekerja sama dengan Kanwilkum dalam rangka untuk melakukan terutama harmonisasi, di samping juga seringkali mereka meminta pendapat hukum dari Kejaksaan Agung,” kata Tito.
Tito menambahkan, pemerintah daerah perlu memperhatikan kesiapan pelaksanaan ketika menyusun suatu peraturan. Menurut dia, kualitas regulasi saja tidak cukup untuk menjamin hukum berjalan efektif apabila tidak didukung aparat, sarana-prasarana, dan anggaran yang memadai.
“Membuat hukum yang tepat, itu hanya salah satu saja dari efektivitas menjalankan hukum,” katanya.