“WHO sudah memberikan guidance bahwa ini berisiko untuk daerah negara itu (Kongo), tapi berisiko sangat rendah untuk negara-negara lain,” ujarnya.
Adapun menurutnya, langkah yang perlu dilakukan Indonesia saat ini adalah meningkatkan kewaspadaan terhadap pelaku perjalanan yang berasal dari wilayah terdampak. Selain itu, Budi juga menilai posisi Indonesia bukan merupakan transit internasional utama.
Hal ini juga yang menjadi alasan risiko masuknya kasus Ebola lebih rendah dibandingkan dengan negara lain.
“Dan kita bukan negara hub, kan? Ada beberapa, seperti Dubai dan Singapura, yang traffic-nya banyak di dunia. Nah, itu lebih berisiko,” jelasnya.
Sementara itu, ia juga menegaskan pemerintah tetap melakukan pemantauan terhadap kedatangan pelaku perjalanan dari negara terdampak sambil mengikuti perkembangan situasi global yang dilaporkan WHO.
(Nadya Kurnia)