Bambang menambahkan, program Simpeda telah berjalan lebih dari tiga dekade dan terbukti menjadi instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).
Secara nasional, hingga akhir Desember 2025, jumlah penabung Simpeda tercatat mencapai lebih dari 8,9 juta nasabah, atau tumbuh sekitar 104 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara dari sisi kinerja tuan rumah, Bank Jateng juga mencatat pertumbuhan positif. Dana tabungan Simpeda mengalami peningkatan sebesar 12 persen secara tahunan (year-on-year) dari 2024 ke 2025, atau setara dengan Rp2,2 triliun.
“Hal ini capaian yang luar biasa dan dibutuhkan, menunjukkan Simpeda sudah menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat dalam melakukan simpanan dan transaksi keuangan,” kata Bambang.
Lebih lanjut, Bambang menyampaikan bahwa Undian Simpeda bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan memiliki manfaat strategis. Program ini dinilai mampu meningkatkan loyalitas nasabah, menarik minat menabung, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dia juga mengajak seluruh BPD untuk terus berkomitmen mengembangkan produk Simpeda agar tetap relevan dan kompetitif di tengah dinamika industri perbankan.
“Kami meyakini sinergi dan kolaborasi antar-BPD akan semakin memperkuat posisi Simpeda sebagai produk unggulan yang tepercaya dan berkelanjutan,” katanya.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asbanda, Rokidi menyampaikan bahwa perkembangan produk tabungan Simpeda terus menunjukkan tren positif dan menjadi kekuatan utama yang menyatukan BPD dari Sabang hingga Merauke.
“Karena produk tabungan Simpeda inilah kami dari Sabang sampai Merauke bisa bersatu dan malam hari ini berkumpul di Surakarta,” katanya.