“Pada saat presentasi, saya sempat berhenti karena sudah sangat gugup. Akhirnya, saya sempat berhenti untuk menenangkan diri dan setelah itu saya tetap melanjutkan presentasi,” kata Eli.
Tantangan serupa juga dihadapi Sam, salah satu anggota tim Amerta Pertiwi dari UNAIR. Dia merasa kesulitan menjawab pertanyaan dari salah satu panelis.
"Ketika Cinta Laura bertanya, aku untuk maneuvering jawaban ke arah yang lebih sederhana itu sulit banget,” kata Sam.
Menurut Ilmuwan dan wirausahawan sosial yang menjadi salah satu panelis, Tri Mumpuni, salah satu pertimbangan kunci dalam penilaian di babak final Genera-Z Berbakti adalah keselarasan ide yang solid dan kemudahan mengeksekusi ide tersebut.
“Mahasiswa harus bisa merumuskan cara merespons persoalan sosial menjadi sebuah kegiatan konkret yang bisa diimplementasikan di level masyarakat desa. Mereka layak disebut sebagai generasi yang memiliki cara berpikir dengan kemampuan intelektual yang cukup, dan empati yang besar, kemudian berkarya nyata jika bisa memenuhi syarat tersebut,” kata Puni.
Empat dari 8 finalis Genera-Z Berbakti 2026 akan berkesempatan mengimplementasikan gagasan di 4 desa wisata binaan Bakti BCA. Keempat desa wisata tersebut adalah Desa Wisata Kreatif Terong, Kabupaten Belitung; Desa Wisata Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur; Desa Wisata Patakbanteng, Kabupaten Wonosobo; dan Desa Wisata Kakaskasen Dua, Kota Tomohon.