Menguitp The Guardian, Minggu (01/03/2026) tercatat dari sekitar 4.218 penerbangan yang dijadwalkan mendarat di negara-negara Timur Tengah pada Sabtu, sebanyak 966 penerbangan atau 22,9 persen dibatalkan. Jika termasuk penerbangan keberangkatan, jumlah pembatalan mencapai lebih dari 1.800 penerbangan.
Untuk Minggu, sebanyak 716 dari total 4.329 penerbangan menuju kawasan Timur Tengah telah dibatalkan. Sementara itu, FlightAware melaporkan lebih dari 18.000 penerbangan mengalami keterlambatan dan lebih dari 2.350 penerbangan dibatalkan secara global hingga Sabtu malam waktu GMT.
Maskapai yang biasanya melintasi Timur Tengah kini harus memutar rute penerbangan, banyak di antaranya dialihkan ke jalur selatan melalui Arab Saudi. Pengalihan ini menambah durasi terbang hingga berjam-jam dan meningkatkan konsumsi bahan bakar, yang berpotensi mendorong kenaikan harga tiket jika konflik berkepanjangan.
Selain itu, lonjakan lalu lintas udara juga berisiko membebani pengatur lalu lintas udara di Arab Saudi. Negara-negara yang menutup wilayah udaranya pun diperkirakan kehilangan pendapatan dari biaya lintas udara (overflight fees).
Mantan pejabat Federal Aviation Administration (FAA) AS yang kini menjadi profesor di Embry-Riddle Aeronautical University, Mike McCormick, menilai sebagian wilayah udara mungkin dapat dibuka kembali dalam 24–36 jam ke depan, bergantung pada perkembangan situasi militer.