Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan
Seperti banyak tokoh dalam kalangan ulama Iran, Mojtaba menempuh pendidikan agamanya di kota Qom, pusat pembelajaran teologi Syiah terkemuka di negara itu dan tempat berdirinya seminari-seminari yang melatih para ulama Iran.
Ia mempelajari yurisprudensi dan teologi Islam di bawah bimbingan beberapa ulama konservatif terkemuka, termasuk Ayatollah Mahmoud Hashemi Shahroudi, Ayatollah Lotfollah Safi Golpaygani, dan Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi, seorang ideolog berpengaruh yang membimbing banyak tokoh politik konservatif di Republik Islam.
Menurut analis Iran, Mojtaba telah menghabiskan sebagian besar kariernya mengajar di seminari-seminari Qom, termasuk kelas yurisprudensi tingkat lanjut yang dikenal sebagai dars-e kharej, yang dianggap sebagai tingkat pendidikan seminari tertinggi.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa ia telah menangguhkan sementara beberapa kelasnya karena alasan pribadi, meskipun hal ini tidak dapat dikonfirmasi secara independen.
Meskipun telah berkiprah selama beberapa dekade di lingkungan keagamaan, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan pemerintahan formal atau menjabat di kantor terpilih atau eksekutif.
Peran dan Pengaruh
Media internasional sering menggambarkan Khamenei sebagai sosok yang sulit dipahami dengan kemungkinan pengaruh di balik layar. Keterbatasan visibilitas publiknya memperkuat citra ini, karena tidak ada pidato publik, wawancara, atau manifesto politik yang luas yang menjelaskan posisinya.
Nama Mojtaba secara berkala muncul dalam diskusi politik di Iran, biasanya terkait dengan pemilihan presiden atau spekulasi tentang kandidat mana yang mungkin didukungnya.
Namun Mojtaba jarang terlibat dalam debat politik publik. Penampilannya sebagian besar terbatas pada upacara resmi, peringatan nasional, dan pertemuan keagamaan yang diliput oleh media pemerintah Iran.
Terakhir kali ia terlihat di depan umum adalah selama demonstrasi pro-pemerintah setelah protes yang meluas awal tahun ini.
Menurut laporan Iran, Mojtaba juga ikut serta dalam Perang Iran-Irak pada akhir 1980-an ketika ayahnya menjabat sebagai presiden. Ia dilaporkan bergabung dengan unit sukarelawan saat masih muda, menandai pengalaman pertamanya dalam urusan militer.
Beberapa media Barat juga mengaitkannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), salah satu lembaga paling kuat di Iran, meskipun ia tidak memegang peran formal di sana.
Suksesi di Bawah Ancaman
Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan negara pada salah satu momen paling bergejolak dalam sejarah modern Iran.
Transisi ini juga berlangsung di bawah ancaman langsung dari Israel, yang para pemimpinnya telah bersumpah untuk membunuh pemimpin Iran mana pun yang dipilih untuk menggantikan Khamenei.
“Pemimpin mana pun yang dipilih oleh rezim teror Iran untuk terus memimpin rencana penghancuran Israel, mengancam Amerika Serikat, dunia bebas, dan negara-negara di kawasan itu, serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target pembunuhan, tidak peduli namanya atau di mana ia bersembunyi,” kata Menteri Pertahanan Israel Israel Katz seperti dilansir dari Anadolu Agency, Senin (9/3/2026).
Ancaman-ancaman tersebut menggarisbawahi tekanan luar biasa yang mengelilingi suksesi pemimpin Iran, menempatkan Mojtaba di pusat konfrontasi geopolitik yang meluas jauh melampaui perbatasan negaranya.
(Febrina Ratna Iskana)