IDXChannel - Semakin sengitnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat memicu kembali inflasi, mendorong suku bunga lebih tinggi, dan memangkas tajam pertumbuhan ekonomi global.
Menurut Kepala Ekonom Bank Dunia Indermit Gill, pertumbuhan ekonomi global terancam hanya mencapai 1,3 persen tahun ini dalam skenario terburuk, anjlok dari 2,9 persen tahun lalu.
Dilansir dari Asia One pada Jumat (24/7/2026), Gill mengatakan bahwa Bank Dunia memiliki tiga skenario dampak perang AS-Iran.
"Skenario terburuk, yakni permusuhan yang berlangsung enam bulan atau lebih, hampir terwujud," katanya dalam wawancara dengan Reuters.
Dalam skenario terburuk, inflasi global akan mencapai 4,5 persen tahun ini.
Pertempuran yang berkepanjangan dan kerusakan infrastruktur minyak di Timur Tengah akan memperdalam kerawanan pangan dengan mengganggu pengiriman pupuk, helium, dan sulfur yang dibutuhkan dalam pertanian, memicu serangkaian efek sekunder, termasuk suku bunga yang lebih tinggi.