sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Skenario Terburuk Bank Dunia, Ekonomi Global Terancam Hanya Tumbuh 1,3 Persen pada 2026

News editor Wahyu Dwi Anggoro
24/07/2026 17:20 WIB
Semakin sengitnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat memangkas tajam pertumbuhan ekonomi global.
Skenario Terburuk Bank Dunia, Ekonomi Global Terancam Hanya Tumbuh 1,3 Persen pada 2026. (Foto: Tasnim News)
Skenario Terburuk Bank Dunia, Ekonomi Global Terancam Hanya Tumbuh 1,3 Persen pada 2026. (Foto: Tasnim News)

IDXChannel - Semakin sengitnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat memicu kembali inflasi, mendorong suku bunga lebih tinggi, dan memangkas tajam pertumbuhan ekonomi global.

Menurut Kepala Ekonom Bank Dunia Indermit Gill, pertumbuhan ekonomi global terancam hanya mencapai 1,3 persen tahun ini dalam skenario terburuk, anjlok dari 2,9 persen tahun lalu.

Dilansir dari Asia One pada Jumat (24/7/2026), Gill mengatakan bahwa Bank Dunia memiliki tiga skenario dampak perang AS-Iran.

"Skenario terburuk, yakni permusuhan yang berlangsung enam bulan atau lebih, hampir terwujud," katanya dalam wawancara dengan Reuters.

Dalam skenario terburuk, inflasi global akan mencapai 4,5 persen tahun ini.

Pertempuran yang berkepanjangan dan kerusakan infrastruktur minyak di Timur Tengah akan memperdalam kerawanan pangan dengan mengganggu pengiriman pupuk, helium, dan sulfur yang dibutuhkan dalam pertanian, memicu serangkaian efek sekunder, termasuk suku bunga yang lebih tinggi.

Komentar tersebut merupakan yang pertama dari seorang pejabat senior Bank Dunia sejak meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Bentrokan meningkat minggu ini dengan pasukan AS membombardir target di selatan dan barat Iran, sementara Teheran menyerang fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Pengiriman di Selat Hormuz kembali lumpuh, ditambah blokade laut oleh kelompok Houthi terhadap Arab Saudi di Laut Merah.

Gill mengatakan bahwa negara-negara miskin yang belum sepenuhnya pulih dari pandemi Covid dapat menghadapi kerawanan pangan yang lebih besar, sementara negara-negara dengan tingkat utang yang tinggi akan terpukul oleh meningkatnya biaya pinjaman karena suku bunga naik.

Tanda-tanda tekanan mulai muncul.  Beberapa negara yang kekurangan uang telah meminta Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menambah alokasi pinjaman. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement