sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Sungai Mahakam Kering Imbas Kemarau Panjang, Distribusi BBM dan Bahan Pokok Tersendat

News editor Iqbal Dwi Purnama
05/09/2026 03:35 WIB
Kementerian PU sebut kondisi sungai Mahakam yang mengalami kekeringan imbas kemarau panjang mulai berdampak pada tersendatnya distribusi BBM dan Bahan Pokok
Sungai Mahakam Kering Imbas Kemarau Panjang, Distribusi BBM dan Bahan Pokok Tersendat (FOTO:Dok Ist)
Sungai Mahakam Kering Imbas Kemarau Panjang, Distribusi BBM dan Bahan Pokok Tersendat (FOTO:Dok Ist)

IDXChannel - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melaporkan kondisi sungai Mahakam yang mengalami kekeringan imbas kemarau panjang mulai berdampak pada tersendatnya distribusi BBM dan Bahan Pokok ke Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo mengatakan, penurunan muka air Sungai Mahakam berdampak langsung terhadap transportasi air yang selama ini menjadi salah satu jalur utama untuk mengangkut penumpang, bahan pangan, hingga BBM.

"Dengan kondisi muka air sungai saat ini, transportasi air hanya dapat melayani hingga Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat," ujar Andri dalam keterangan resmi, Jumat (4/9/2026).

Kondisi tersebut membuat distribusi bahan pangan dan BBM menuju Kabupaten Mahakam Ulu mengalami kendala. Jalur darat kini menjadi satu-satunya akses distribusi yang dapat digunakan untuk menuju wilayah tersebut.

Namun, penggunaan jalur darat membuat waktu tempuh distribusi menjadi jauh lebih panjang, yakni mencapai sekitar 2 x 24 jam. Terbatasnya akses distribusi tersebut turut berdampak terhadap ketersediaan BBM dan kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyatakan terus memantau kondisi Sungai Mahakam untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut akibat penurunan debit air. Pemantauan dilakukan secara intensif oleh BWS IV Samarinda sebagai bagian dari langkah mitigasi menghadapi kondisi kemarau.

"Kami instruksikan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk terus memantau kondisi Sungai Mahakam. Hal ini sebagai langkah mitigasi dampak kemarau," kata Menteri PU Dody Hanggodo.

Secara umum, Kalimantan Timur memiliki curah hujan tahunan yang cukup tinggi, yakni berkisar 3.600–3.700 milimeter. Namun, memasuki puncak musim kemarau pada Juli-Agustus 2026, curah hujan mengalami penurunan signifikan.

Pada Juli 2026, curah hujan tercatat sekitar 289 milimeter. Angka tersebut kemudian turun drastis menjadi hanya 25 milimeter pada Agustus 2026. Minimnya curah hujan menyebabkan debit Sungai Mahakam mengalami penurunan, terutama di wilayah hulu. Sementara di bagian hilir, debit juga menurun, tetapi fluktuasinya relatif lebih stabil.

Kondisi di wilayah hilir tersebut dipengaruhi efek damping atau peredaman, baseflow dari anak-anak Sungai Mahakam yang berasal dari sejumlah kabupaten lain, serta pengaruh pasang surut.

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement