AALI
0
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
0
ACES
0
ACST
0
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
0
ADMF
0
ADMG
0
ADRO
0
AGAR
0
AGII
0
AGRO
0
AGRO-R
0
AGRS
0
AHAP
0
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
0
AISA-R
0
AKKU
0
AKPI
0
AKRA
0
AKSI
0
ALDO
0
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
-0.73%
-3.98
IHSG
6883.50
-0.44%
-30.64
LQ45
1009.51
-0.63%
-6.42
HSI
20116.20
-0.27%
-55.07
N225
26604.84
-0.27%
-72.96
NYSE
15080.98
0.3%
+45.11
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,038 / gram

Bagaimana Rasanya Ramadan Di Jerman?

SYARIAH
Shifa Nurhaliza
Selasa, 26 April 2022 17:42 WIB
Merantau adalah salah satu hal yang sulit bagi beberapa orang. Beberapa orang merantau untuk menimba ilmu baik itu antarkota hingga ke luar negeri.
Bagaimana Rasanya Ramadan Di Jerman? (Foto: Dompet Dhuafa/Adv)
Bagaimana Rasanya Ramadan Di Jerman? (Foto: Dompet Dhuafa/Adv)

IDXChannel - Merantau adalah salah satu hal yang sulit bagi beberapa orang. Beberapa orang merantau untuk menimba ilmu baik itu antarkota hingga ke luar negeri. Beradaptasi dengan lingkungan, situasi, makanan, hingga kebiasaan adalah salah satu hal wajib yang perlu dilakukan oleh insan muda yang sedang merantau.

Bulan ramadan adalah bulan yang sangat ditunggu oleh umat muslim. Ibadah berpuasa di bulan ramadan ini selain wajib juga banyak sekali budaya dan kebiasaan yang hanya bisa kita jumpai di bulan ini bahkan hanya di Indonesia.

Setiap umat muslim punya tantangannya sendiri dalam menempuh dan menjalani ibadah puasa, sama seperti halnya Nurul F Himma seorang mahasiswa yang saat ini sedang menempuh studi S3 nya di Jerman. Nurul F Himma sudah terbiasa merantau sejak saat di Indonesia, dari kota satu ke kota yang lainnya. Akan tetapi kedaanya sekarang mulai berbeda, karena ia harus pergi jauh dan keluar dari Indonesia.

 “Ini adalah bulan ke 6 masuk bulan ke 7 saya berada di Jerman, pertama kali datang kena karantina mandiri dan tentu diawasi sesuai peraturan. Kemudian aku merasa saat datang ke sini adalah harus mandiri semuanya, toko di sini sabtu minggu tutup jadi harus punya planning seperti list belanja, sampai hal-hal ringan kebutuhan sehari-hari pun harus direncanakan. Intinya, aku harus terencana, mandiri, dan ontime, karna transportasi di sini sangat tepat waktu dan sering banget lari-lari untuk mengejar bis.” Ucap Nurul F Himma.

Dilansir dari live chanel youtube Dompet Dhuafa pada hari sabtu sore (23/04) Nurul menjelaskan bahwa perbedaan yang dirasakan sangat terasa saat dia berada di Jerman. Yang pertama adalah soal perbedaan cuaca, karena jerman memiliki 4 musim sedangkan di Indonesia hanya 2 musim. Yang kedua adalah Budaya, dan tentunya makanan. Mengharuskan Nurul menjadi pribadi yang lebih terencana, mandiri, dan tepat waktu. Lalu bagaimana ramadan di Jerman ya Insan Muda?

 Nurul menjelaskan “Allhamdulillah ramadan tahun ini di sini masuk musim semi/spring sekarang puasanya lebih singkat sekitar 15-16jam, berbeda dengan tahun lalu yang puasanya bisa sampai 19 jam. Sahur itu sekitar jam 5 kemudian maghribnya jam setengah 9 malam, Isya jam 10 kurang. Biasanya aku masak untuk sahur dan berbuka, belanja di supermarket terdekat, untungnya di sini tidak susah mencari makanan halal. Tapi di sini kangkung mahal banget, 1 ikat harganya bisa setara sama 3kg wortel.”

Selain harus beradaptasi dengan lingkungan, ternyata merantau dan jauh dari negeri sendiri menyisakan sedikit ruang rindu di hati Nurul. “sekarang lagi kangen makan pecel tapi saat ramadan yang paling dikangenin sekali tuh sebelum magrib ikut kajian langsung datang dan duduk di masjid sampai tarawih. Terus kangen banget sama keluarga tentunya, biasanya 1 minggu sebelum lebaran itu sudah ada di rumah,” tambah Nurul F Himma, alumni beasiswa Etos Dompet Dhuafa.

Bagaimana insan muda, tertarik untuk merantau juga? (SNP)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD