AALI
12925
ABBA
197
ABDA
0
ABMM
3280
ACES
1010
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
187
ADRO
3310
AGAR
354
AGII
1975
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
127
AHAP
61
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
160
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1025
AKSI
232
ALDO
925
ALKA
298
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.40
0.61%
+3.27
IHSG
6918.14
1.39%
+94.81
LQ45
1015.18
0.69%
+6.97
HSI
20717.24
2.97%
+596.56
N225
26739.03
1.27%
+336.19
NYSE
0.00
-100%
-15044.52
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
870,562 / gram

Banyak WNI Positif Covid-19 Pasca dari Arab Saudi, Epidemiolog Sarankan Umrah Ditunda

SYARIAH
Muhammad Sukardi
Selasa, 18 Januari 2022 14:03 WIB
Ahli Epidemiologi Griffith University Australia Dicky Budiman menyarankan agar pemerintah menunda Umrah.
Ahli Epidemiologi Griffith University Australia Dicky Budiman menyarankan agar pemerintah menunda Umrah. (Foto: MNC Media)
Ahli Epidemiologi Griffith University Australia Dicky Budiman menyarankan agar pemerintah menunda Umrah. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Ahli Epidemiologi Griffith University Australia Dicky Budiman menyarankan agar pemerintah menunda Umrah. Ini berkaitan dengan meningkatnya kasus positif Covid-19.

Belum lama ini, dikabarkan sebanyak 28 jemaah WNI positif Covid-19 usai Umrah. Semuanya adalah perwakilan pimpinan agen perjalanan.

"Kalau misalnya dari sisi kondisi Arab Saudi belum ada perbaikan, artinya kasusnya terus meningkat dan belum ada penurunan bahkan sejak awal Januari 2022 atau bahkan dari pertengahan Desember 2021, saya melihat tidak ada dasar lagi memberikan rekomendasi (Umrah)," terang Dicky pada MNC Portal, Selasa (18/1/2022).

Dicky menjelaskan, kondisi saat ini baik di Indonesia maupun di Arab Saudi terlalu berisiko. "Sekalipun protokol kesehatan dan vaksinasi dilakukan, ini tidak begitu berarti," tegasnya.

Ya, pada kasus Omicron, varian Covid-19 tersebut sudah terbukti tidak hanya menyerang mereka yang tidak divaksin, tetapi juga bisa menginfeksi orang yang sudah divaksin. Artinya, kondisi saat ini yang diprediksi akan mengalami lonjakan kasus, terlalu berisiko untuk Umrah.

Dicky melanjutkan, kondisi ini perlu dipertimbangkan lagi oleh pemerintah Indonesia dari aspek manfaat dan risikonya di tengah situasi dalam negeri yang menuju puncak di Februari 2022. Pemerintah, katanya, harus segera melakukan analisis risiko.  

'Tools' yang dimiliki Badan Kesehatan Dunia (WHO), sambungnya, harus jadi rujukan. Artinya, keputusan untuk mengizinkan Umrah atau menundanya, harus dipertimbangkan dengan sangat matang dan berlandaskan 'scientist'.

Apakah kemudian pemerintah akan menunda Umrah sampai kasus Arab Saudi melandai atau sudah mencapai puncak, itu akan dibahas di analisis risiko. "Kemungkinan puncak kasus di Arab Saudi itu akhir bulan ini atau awal Februari," kata Dicky.

"Kalau sudah mencapai puncak dan melandai, risikonya akan jauh lebih kecil. Namun sekarang, melihat konteks ini, ya, terlalu berisiko," tambahnya.

Dicky Budiman sendiri merekomendasikan untuk pemerintah menunda Umrah sekitar 1 bulan untuk melihat dan membaca kondisi pandemi baik di Indonesia maupun di Arab Saudi.

"Dalam kondisi pandemi, kebijakan itu sangat dinamis. Semua akan disesuaikan dengan kondisi yang terjadi saat ini," ungkap Dicky Budiman.  (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD