IDXChannel—Perusahaan teknologi layanan internet, Cloudflare, akan memangkas 20 persen jumlah karyawannya. Pemangkasan tenaga kerja ini menyusul restrukturasi operasional perusahaan yang kini banyak menggunakan artificial intelligence.
Melansir CNA (8/5/2026), Cloudflare berencana untuk melakukan PHK terhadap 1.100 karyawan secara global. Sampai dengan akhir 2025, perusahaan ini memiliki 5.156 pekerja penuh waktu.
Dalam pesannya kepada para karyawan, CEO Cloudflare Matthew Prince dan Co-founder Michelle Zatlyn mengatakan bahwa Cloudflare telah merombak ulang setiap tim dan fungsi di perusahaan agar beroperasi mengikuti perkembangan teknologi, di mana AI kini berorientasi pada agen.
Cloudflare mengatakan pemutusan hubungan kerja ini tidak berkaitan dengan kinerja karyawan terkait atau tekanan keuangan usaha jangka pendek, tetapi merupakan desain ulang proses dan peran internal perusahaan.
Perusahaan juga mengatakan bahwa penggunaan AI dalam operasional kini telah meningkat enam kali lipat dalam tiga bulan terakhir. Sehingga, terjadi banyak perubahan besar pada cara kerja tim.
Di luar pemangkasan tenaga kerja, pendapatan Cloudflare juga diperkirakan di bawah ekspektasi Wall Street. Pendapatan kuartal kedua tahun ini diperkirakan mencapai USD664 juta sampai dengan USD665 juta.
Sementara perkiraan analis berada di angka USD665,3 juta dan pendapatan disesuaikan diproyeksikan mencapai 27 sen per saham, sesuai dengan ekspektasi analis. Cloudflare juga diperkirakan harus membayar USD140 juta hingga USD150 juta terkait PHK ini.
Pada kuartal pertama, Cloudflare mencatatkan pendapatan senilai USD639,8 juta, melampaui perkiraan analis di angka USD621,09 juta. Sementara profit disesuaikan mencapai 25 sen per saham, melampaui ekspektasi 23 sen per saham.
Selain Cloudflare, beberapa perusahaan teknologi juga melakukan pemutusan hubungan kerja dan mulai gencar memanfaatkan AI dalam operasionalnya. Goldman Sachs memperkirakan AI menyebabkan 5.000-10.000 PHK di Amerika Serikat.
(Nadya Kurnia)