sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kemenkes Siapkan AI untuk Bantu Baca Hasil MRI dan Pemeriksaan Medis

Technology editor Mei Sada
19/08/2026 15:46 WIB
Kecerdasan buatan (AI) mulai dilirik sebagai salah satu teknologi yang dapat membantu tenaga kesehatan, terutama dalam membaca hasil pemeriksaan medis.
Kemenkes Siapkan AI untuk Bantu Baca Hasil MRI dan Pemeriksaan Medis. (Foto: MNC Media)
Kemenkes Siapkan AI untuk Bantu Baca Hasil MRI dan Pemeriksaan Medis. (Foto: MNC Media)

IDXChannel—Kesenjangan distribusi dokter di Indonesia menjadi salah satu tantangan dalam pelayanan kesehatan yang merata. Kondisi tersebut membuat pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mulai dilirik sebagai salah satu teknologi yang dapat membantu tenaga kesehatan, terutama dalam membaca hasil pemeriksaan medis.

Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan RI, Eko Sulistijo, mengatakan modernisasi alat kesehatan tidak selalu berjalan beriringan dengan ketersediaan dokter yang mampu menganalisis hasil pemeriksaan.

Ia mencontohkan penggunaan alat seperti MRI. Ketika fasilitas kesehatan telah memiliki teknologi pemeriksaan canggih, belum tentu tersedia dokter dengan kompetensi khusus yang dapat membaca hasil pemeriksaannya dengan cepat.

“Penyebaran dokter di Indonesia belum begitu merata. Sehingga pada saat kita lakukan modernisasi alat kesehatan, salah satu misi kami seperti MRI itu tidak serta-merta ketersediaan dokter yang bisa menganalisis hasilnya juga secepat peralatannya,” ujar Eko dalam media briefing Philips Future Health Index 2026 Indonesia Report di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Kemenkes mengembangkan pemanfaatan AI untuk membantu membaca hasil pemeriksaan berbasis gambar. Eko menjelaskan, hasil pemeriksaan dari fasilitas kesehatan, terutama di tingkat primer, dapat dikumpulkan secara terpusat. 

Data berupa gambar medis tersebut kemudian dapat diproses dengan bantuan AI untuk memberikan analisis awal. Hasilnya nantinya dapat dikirimkan kembali ke fasilitas kesehatan yang membutuhkan, sementara data pemeriksaan juga tetap tercatat dalam ekosistem SatuSehat.

“Solusi yang paling dekat adalah pemanfaatan AI untuk bisa membantu gambar-gambar yang di-capture di masing-masing faskes, khususnya di faskes primer, itu bisa dikumpulkan secara terpusat yang kita coba koneksikan dengan AI yang kita sudah siapkan,” jelasnya.

Menurut Eko, konsep tersebut tengah dikembangkan Kemenkes sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan teknologi dalam layanan kesehatan. Dengan sistem tersebut, AI diharapkan dapat membantu fasilitas kesehatan yang memiliki keterbatasan akses terhadap dokter radiologi atau tenaga ahli tertentu. 

Eko pun menegaskan bahwa teknologi bukan dimaksudkan untuk menggantikan dokter, melainkan membantu mempercepat proses pembacaan dan memberikan dukungan dalam menentukan langkah selanjutnya.

Pengembangan tersebut juga berkaitan erat dengan upaya Kemenkes memperkuat fondasi data kesehatan nasional. Sebab, semakin banyak fasilitas kesehatan yang terhubung dan mengirimkan data dengan standar yang sama, semakin besar pula potensi data tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi AI.

Kemenkes saat ini menerapkan sejumlah standar pertukaran data kesehatan agar informasi dari berbagai sistem tetap dapat dibaca dan diproses secara konsisten. Standar tersebut antara lain HL7 dan FHIR untuk data kesehatan, LOINC untuk data laboratorium, serta DICOM untuk data radiologi.

“Sistemnya boleh berbeda tapi standarnya sama. Sehingga ini menjamin data yang dikirimkan ke Kementerian Kesehatan itu juga memang memiliki kualitas yang setara,” kata Eko.

Pengembangan AI di bidang kesehatan juga tidak berhenti pada pemeriksaan gambar. Eko menyebut teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan lain, termasuk memantau hasil program pemeriksaan kesehatan dan mengelola ketersediaan logistik medis.

Dalam program Cek Kesehatan Gratis, misalnya, data hasil skrining yang terkumpul dapat dianalisis untuk membantu pemerintah mengetahui tindak lanjut yang dibutuhkan pasien.

Di sisi logistik, AI juga berpotensi membantu mendeteksi ketersediaan alat kesehatan dan bahan medis habis pakai ketika stok mulai menipis, sehingga proses pengadaan maupun distribusi dapat dilakukan lebih cepat.

Namun, di tengah semakin luasnya penggunaan AI dan integrasi data kesehatan, Eko menegaskan aspek keamanan tidak dapat dipisahkan dari pengembangan teknologi tersebut.

Kemenkes mendorong fasilitas kesehatan membangun tim tanggap insiden siber untuk menjaga keamanan data yang mereka kirimkan ke ekosistem SatuSehat.

“Tapi ada satu hal yang harus kita jaga adalah keamanan datanya itu sendiri,” tegas Eko.


(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement