IDXChannel - Investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) yang menopang kenaikan rekor di pasar saham menghadapi hambatan besar karena perang di Timur Tengah.
Menurut Kepala Riset S&P Global Visible Alpha Melissa Otto, perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran mengerek biaya energi dan megaburkan prospek pertumbuhan ekonomi.
Sebelum perang di Iran pecah, raksasa teknologi seperti Microsoft, Amazon, Alphabet, dan Meta berencana untuk menghabiskan setidaknya USD635 miliar atau sekitar Rp10.800 triliun untuk pusat data, chip, dan infrastruktur AI lainnya pada 2026.
Dilansir dari Reuters pada Minggu (5/4/2026), angka tersebut naik dari USD383 miliar pada tahun sebelumnya.
Meskipun perusahaan teknologi belum memberi sinyal pengurangan investasi, harga minyak yang terus tinggi dapat memaksa revisi pengeluaran pada kuartal pertama dan kedua.
"Ini dapat memicu koreksi yang sangat signifikan di pasar saham," kata Otto.
Euforia atas AI telah membawa indeks saham global melampaui puncak pada 2025, tetapi telah kehilangan momentum sejak konflik di Iran.
Pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Hal ini membuat pengembangan AI bergantung pada harga listrik.
Pada konferensi energi CERAWeek di Houston pekan lalu, para eksekutif minyak memperingatkan bahwa risiko pasokan belum sepenuhnya tercermin dalam harga, yang menimbulkan kekhawatiran tentang kenaikan lebih lanjut dengan efek domino bagi ekonomi global.
"Karena jika harga energi melonjak 30 perswn, it