Namun, melemahnya permintaan kendaraan listrik di kawasan Eropa membuat perusahaan meninjau ulang rencana investasinya. Langkah pembatalan itu terjadi di tengah program restrukturisasi besar-besaran yang tengah dijalankan Nissan guna memangkas biaya dan memperbaiki profitabilitas perusahaan.
Produsen otomotif asal Jepang tersebut menghadapi tekanan penjualan di sejumlah pasar utama, termasuk Amerika Serikat dan China, di saat persaingan industri EV global semakin ketat.
Tahun lalu, Nissan juga mengumumkan rencana pengurangan jaringan produksi global menjadi 10 pabrik dari sebelumnya 17 fasilitas. Selain itu, perusahaan meninjau kembali operasi bisnis manufaktur powertrain sebagai bagian dari upaya pemulihan kinerja.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, baik Nissan maupun JATCO belum memberikan komentar resmi terkait pembatalan investasi tersebut.
(DESI ANGRIANI)