"Boleh dibilang, digitalisasi kalau seperti itu, sepertinya memberikan pasar ke China langsung. Saya lagi mikirin, ada nggak perusahaan domestik yang bisa dihidupkan lagi untuk menjadi kompetisi dari dominasi China even di pasar domestik ini, di marketplace-nya itu," ujarnya.
Laporan dari konsultan Bain and Company memperkuat kekhawatiran tersebut. Berbagai platform asal China kini menguasai hampir 50 persen pasar e-commerce di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Berdasarkan data nilai transaksi (Gross Merchandise Value/GMV) tahun 2024 yang mencapai USD62 miliar (sekitar Rp1.031 triliun). (Wahyu Dwi Anggoro)