sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rasio PE Nvidia Sentuh Level Terendah Tujuh Tahun Imbas Kekhawatiran Perang dan AI

Technology editor Tim IDXChannel
31/03/2026 00:13 WIB
Saham Nvidia kini diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba pendapatan terendah sejak sebelum booming AI yang dipicu oleh ChatGPT dan pelemahan pasar saham.
Rasio PE Nvidia Sentuh Level Terendah Tujuh Tahun Imbas Kekhawatiran Perang dan AI. (Foto: iNews Media Group)
Rasio PE Nvidia Sentuh Level Terendah Tujuh Tahun Imbas Kekhawatiran Perang dan AI. (Foto: iNews Media Group)

IDXCHannel - Saham Nvidia kini diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba pendapatan terendah sejak sebelum booming AI yang dipicu oleh ChatGPT dan pelemahan pasar saham global akibat meningkatnya kekhawatiran konflik di Timur Tengah.

Dilansir dari CNA, Senin (30/3/2026), penurunan rasio PE (Price to Earning) ini mengindikasikan valuasi saham Nvidia menjadi lebih murah, namun kondisi tersebut juga menimbulkan meningkatnya risiko dan ketidakpastian yang mulai menggerus kepercayaan investor terhadap tren investasi AI yang selama ini mendorong kenaikan Wall Street.

Saham Nvidia tercatat turun hampir 20 persen dari penutupan harga tertinggi sepanjang masa pada Oktober, dengan perusahaan tersebut terjebak dalam aksi jual pasar yang dipicu kekhawatiran konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran dapat menjaga harga minyak tetap tinggi dan memicu inflasi, sehingga berpotensi mendorong kenaikan suku bunga global.

Pada perdagangan Jumat, saham Nvidia kembali melemah 2,2 persen dan diperkirakan turun sekitar 10 persen untuk kuartal pertama.

Dalam beberapa bulan terakhir, investor juga mulai khawatir efektivitas belanja besar untuk infrastruktur AI oleh perusahaan teknologi seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon, yang dinilai membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan peningkatan pendapatan.

Gabungan tekanan tersebut telah menghapus lebih dari USD800 miliar atau sekitar Rp13.600 triliun dari kapitalisasi pasar Nvidia, yang kini berada di kisaran USD4 triliun (Rp68.000 triliun), meskipun perusahaan tetap mencatat peningkatan margin laba kotor hingga sekitar 75 persen serta proyeksi pertumbuhan pendapatan yang terus dinaikkan oleh analis.

Saat ini, saham Nvidia diperdagangkan sekitar 19,6 kali proyeksi laba 12 bulan ke depan, menjadi level terendah sejak awal 2019, sebelum pandemi dan empat tahun sebelum peluncuran ChatGPT oleh OpenAI.

Sebagai perbandingan, rasio PE agregat indeks S&P 500 berada di kisaran 20, setelah indeks tersebut turun sekitar 7 persen sepanjang tahun ini. Biasanya, perusahaan dengan pertumbuhan tinggi seperti Nvidia mendapatkan valuasi lebih tinggi dibanding perusahaan dengan pertumbuhan laba yang lebih lambat.

Analis memperkirakan laba perusahaan dalam indeks S&P 500 akan tumbuh sekitar 19 persen pada 2026, sementara Nvidia diproyeksikan mencatat pertumbuhan lebih dari 70 persen pada tahun fiskal berjalan, menurut data LSEG.

Di sisi lain, saham perusahaan teknologi, terutama sektor perangkat lunak, juga tertekan karena kekhawatiran bahwa perkembangan AI dapat meningkatkan persaingan dan menekan margin keuntungan.

Bahkan, teknologi AI di masa depan juga berpotensi memengaruhi perusahaan teknologi perangkat keras, termasuk Nvidia, kata seorang trader independen di Triple D Trading, Dennis Dick.

“Semua teknologi, apa pun itu, termasuk Nvidia, berpotensi mengalami disrupsi, dan itulah faktor risikonya saat ini,” ujar Dennis Dick.

“Semuanya berjalan di atas chip Nvidia, tetapi itu tidak berarti akan tetap seperti itu dalam dua atau tiga tahun ke depan. Semuanya berubah begitu cepat, dan saya pikir itulah kekhawatiran pasar secara keseluruhan,” sambungnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Nvidia bertransformasi dari produsen chip grafis untuk industri video game menjadi pemasok utama chip AI global. Sejak peluncuran ChatGPT, saham perusahaan telah melonjak lebih dari 1.000 persen, didorong tingginya permintaan terhadap teknologi AI.

Sementara itu, valuasi perusahaan teknologi lain juga mengalami penurunan. Rasio PE Microsoft tmengalami penurunan rasio PE dalam aksi jual pasar baru-baru ini, kini turun menjadi sekitar 20 dari 35 pada Agustus tahun lalu, sementara rasio PE pesaing AI-nya, Alphabet, turun menjadi 24 dari hampir 30 pada Januari.

Kepala ahli strategi pasar di B. Riley Wealth, Art Hogan, mengatakan perusahaannya terus merekomendasikan Nvidia kepada kliennya.

"Dengan valuasi yang lebih rendah daripada S&P 500, saya pikir ini keputusan yang mudah," kata Hogan.

Reporter: Nasywa Salsabila

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement