sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saham Boeing Malah Turun Usai China Setuju Beli 200 Pesawatnya

Market news editor Nia Deviyana
16/05/2026 23:30 WIB
Saham Boeing turun 4,1 persen pada Kamis dan 3.7 persen pada Jumat waktu setempat.
Saham Boeing Malah Turun Usai China Setuju Beli 200 Pesawatnya. Foto: AP.
Saham Boeing Malah Turun Usai China Setuju Beli 200 Pesawatnya. Foto: AP.

IDXChannel - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim China telah setuju untuk membeli 200 pesawat jet Boeing. Namun, jumlah ini jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan analis, sehingga saham Boeing pun turun.

Detail kesepakatan belum tersedia, termasuk kapan dan jenis pesawat apa yang akan dikirim. Namun, jumlahnya jauh lebih kecil dibanding paket sekitar 500 pesawat yang sebelumnya dibahas menjelang pertemuan antara Trump dan pemimpin China Xi Jinping.

“Satu hal yang dia setujui hari ini, dia (Xi Jinping) akan memesan 200 pesawat, 200 yang besar,” kata Trump di acara Hannity Fox News, dilansir Reuters.

Saham Boeing turun 4,1 persen pada Kamis dan 3.7 persen pada Jumat waktu setempat.

Pesanan besar Boeing merupakan salah satu dari banyak kesepakatan bisnis yang diharapkan muncul dari pertemuan tersebut. Perpanjangan gencatan dagang yang telah berlangsung sejak Oktober tahun lalu juga diharapkan para investor. Saat itu, Trump menangguhkan tarif tiga digit pada barang China, sementara Xi menghindari pembatasan pasokan global logam tanah jarang yang penting.

Gedung Putih belum segera menanggapi permintaan komentar terkait reaksi pasar terhadap pengumuman tersebut.

Sumber yang mengetahui diskusi Trump dengan Xi Jinping mengatakan, pembicaraan sebenarny mencakup 500 unit Boeing 737 MAX, ditambah kemungkinan puluhan pesawat widebody yang lebih mahal dalam pesanan lanjutan setelah pertemuan. Namun, China juga sedang berdiskusi untuk kesepakatan serupa dengan produsen pesawat Eropa Airbus (AIR.PA).

Kedua produsen pesawat ini bersaing ketat di China, pasar penerbangan terbesar kedua di dunia. Pada 2010-an, Airbus melampaui Boeing dan menguasai mayoritas pasar, bahkan membuka pabrik perakitan akhir A320 di Tianjin.

China perlu membeli dari keduanya untuk memenuhi pertumbuhan permintaan perjalanan yang pesat. Menurut banyak analis, China saat ini membutuhkan hingga 1.000 pesawat baru.

Proyeksi pasar dari Boeing dan Airbus menunjukkan bahwa China akan membutuhkan setidaknya 9.000 pesawat jet baru hingga 2045.

Pesanan besar terakhir China dengan Boeing terjadi saat kunjungan Trump ke Beijing pada November 2017, ketika disepakati pembelian 300 pesawat. Setelah itu, hubungan kedua negara memburuk, dan Boeing hanya menerima 51 pesanan yang kebanyakan pesawat kargo.

Analis mengatakan Beijing memiliki sejarah menggunakan pertemuan diplomatik untuk mengumumkan pesanan pesawat besar yang mencerminkan kondisi politik, tidak selalu realitas kontrak.

“Pembelian pesawat oleh maskapai China memerlukan persetujuan pemerintah pusat dan sering terkait kunjungan diplomatik. Operator akhir pesawat biasanya baru jelas mendekati waktu pengiriman,” kata analis investasi dirgantara di BNP Paribas, Matt Akers. 

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement