"Padahal ancamannya terus berkembang ya, ancaman itu enggak nunggu, enggak nunggu fondasinya ready atau belum. Tapi perusahaan tetap harus selalu ready memperkuat dua hal sekaligus, yaitu pencegahan dan kesiapan terhadap recovery," katanya.
Selain kesiapan menghadapi ancaman siber, survei Synology juga menemukan masih rendahnya keyakinan perusahaan terhadap kemampuan pemulihan data setelah mengalami serangan ransomware.
Clara mengungkapkan, hanya sekitar 24 persen perusahaan di Indonesia yang sangat yakin mampu memulihkan sistem dan data dengan cepat apabila terkena serangan ransomware. Sementara itu, sebanyak 76 persen perusahaan lainnya belum sepenuhnya yakin terhadap kemampuan pemulihan tersebut.
"Hanya ada sekitar 24 persen perusahaan di Indonesia yang sangat yakin bisa recovery dengan cepat jika terserang ransomware. Jadi sisanya ada 76 persen perusahaan yang masih belum sepenuhnya yakin dengan kemampuan recovery-nya," ungkap Clara.
Clara menjelaskan, tantangan keamanan data semakin besar seiring dengan pesatnya investasi AI di tingkat global. Mengutip data Gartner, belanja AI global meningkat 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar USD2,6 triliun atau setara Rp39.000 triliun. Jumlah tersebut mencakup sekitar 40 persen dari total belanja teknologi informasi (IT) global yang mencapai USD6,15 triliun.