IDXChannel - Platform media sosial TikTok membantah tuduhan bahwa pihaknya memblokir konten pro-Palestina. Raksasa internet itu mengatakan tuduhan tersebut sama sekali tidak berdasar.
Dilansir dari Reuters pada Jumat (27/10/2023), tuduhan tersebut dikeluarkan oleh Pemerintah Malaysia. Selain TikTok, Kuala Lumpur juga menuduh Meta, induk Facebook dan Instagram, melakukan hal serupa.
"Tuduhan ini tidak berdasar. Pedoman komunitas kami berlaku sama untuk semua konten di TikTok," kata seorang juru bicara TikTok.
"Kami berkomitmen untuk secara konsisten menegakkan kebijakan kami untuk melindungi komunitas kami," lanjutnya.
Baik Meta maupun TikTok menyebut Hamas, kelompok Palestina yang berkuasa di Gaza, sebagai organisasi berbahaya dan melarang konten yang memujinya.
Anggota Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober. Sekitar 1.400 orang tewas dalam serangan mendadak tersebut.
Sebagai balasan, pasukan Israel membombardir Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan bahwa 7.028 warga telah terbunuh akibat serangan udara Israel, termasuk 2.913 anak-anak.
Sejak konflik meletus, kedua perusahaan media sosial telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan moderasi.
Meta mengatakan pada pertengahan Oktober bahwa pihaknya telah menghapus atau memberi label pada hampir 800.000 konten dalam bahasa Ibrani dan Arab beberapa hari setelah serangan 7 Oktober. TikTok mengatakan pekan ini bahwa pihaknya telah menghapus lebih dari 775.000 video dan 14.000 siaran langsung sejak serangan tersebut. (WHY)