“Dalam strategi jangka panjang Bank Mandiri, CAR itu juga akan kami jaga optimal di kisaran 19 sampai 20 persen. Ini sebagai antisipasi kami untuk ekspansi bisnis dan juga untuk meng-cover risikonya,” kata Novita.
Menurut Novita, struktur permodalan tersebut memberi ruang bagi Bank Mandiri untuk tetap menjaga return on equity sekaligus mendukung pertumbuhan kredit yang berkelanjutan di tengah penugasan dan program strategis pemerintah.
Terkait dampak dividen interim terhadap pasar, Novita menilai kebijakan tersebut menjadi sinyal positif atas fundamental perseroan, dengan pergerakan saham dan likuiditas pasca cum date yang tetap terjaga secara wajar.
“Dividen interim ini tentunya juga dilihat oleh pasar sebagai sinyal positif atas fundamental perseroan,” ujarnya.
Ke depan, ujar dia, kebijakan dividen interim masih berpotensi dipertimbangkan dengan memperhatikan kinerja keuangan, permodalan, dan likuiditas perseroan.
“Ke depan, dividen interim, perseroan juga akan berpendapat bahwa ini potensinya masih dapat kami pertimbangkan. Tentunya dengan mempertimbangkan kinerja keuangan, kinerja permodalan, dan juga yang tidak kalah penting adalah likuiditas,” kata Novita.
(Dhera Arizona)