AALI
8225
ABBA
550
ABDA
0
ABMM
1295
ACES
1300
ACST
244
ACST-R
0
ADES
2820
ADHI
895
ADMF
7675
ADMG
216
ADRO
1345
AGAR
368
AGII
1305
AGRO
2290
AGRO-R
0
AGRS
244
AHAP
70
AIMS
338
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
600
AKRA
3870
AKSI
424
ALDO
720
ALKA
234
ALMI
238
ALTO
322
Market Watch
Last updated : 2021/09/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
453.05
-0.47%
-2.15
IHSG
6060.76
-0.26%
-15.56
LQ45
851.73
-0.36%
-3.10
HSI
24221.54
0.51%
+122.40
N225
29839.71
-2.17%
-660.34
NYSE
16168.17
-1.78%
-292.18
Kurs
HKD/IDR 1,827
USD/IDR 14,235
Emas
805,555 / gram

Banyak Kredit Macet, Penurunan Suku Bunga BI Belum ‘Nendang’ Bagi Perbankan

BANKING
Hafid Fuad/Koran Sindo
Senin, 22 Februari 2021 18:09 WIB
Penurunan suku bunga belum berdampak signifikan bagi perbankan nasional.
Banyak Kredit Macet, Penurunan Suku Bunga BI Belum ‘Nendang’ Bagi Perbankan (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Bank Indonesia baru saja menurunkan kembali suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 3,5 persen. Namun, hal ini belum dianggap terlalu berdampak signifikan bagi perbankan nasional, pasalnya akibat pandemi covid-19, angka kredit macet naik signifikan.

Chief Economist TanamDuit Ferry Latuhihin menilai tantangan akibat covid19 membuat bank sedang menghadapi kredit macet yang cukup tinggi dan harus melakukan pencadangan. Ini jelas mengurangi kapasitas bank untuk memberikan kredit. Oleh karena itu suku bunga BI tidak bisa menjamin turunnya lending rate dan hanya berhasil menurunkan deposit rate atau deposito. 

Berikutnya terjadi gap yang semakin besar antara bunga deposito (deposit rate) dan bunga kredit (lending rate). Menurutnya lending rate hanya bisa turun kalau kredit macet dilakukan restrukturisasi sedemikian rupa untuk menarik kembali pencadangan menjadi dana cash. 

"Oleh karena itu saya usulkan perbankan harus melakukan restrukturisasi kredit macet dengan cara-cara yang tidak konvensional. Tujuannya agar debitur dan kreditur selamat dan recovery rate nya bisa mencapai 100% bagi bank. Restrukturisasi kredit macet itu harus mengarah pada equity-based dan mezzanine," kata Ferry saat dihubungi di Jakarta, Senin. (22/2/2021).

Dia mengkritisi industri perbankan yang tetap diminta tumbuh dengan program penjaminan kredit. Menurutnya ini sangat memberatkan pelaku industri bank dan dampaknya akan buruk. 

"Karena total kredit bank umum per 2020 saja tidak sampe Rp6.000 triliun. Belum lagi kalau ditambah NPL hasil restrukturisasi POJK 48. Ini artinya bankir didorong tidak bertanggungjawab," lanjutnya.

Menurutnya pemerintah khususnya OJK harusnya mendorong bankir agar berkemampuan komplit. Bukan sekedar jadi bankir good bank pada saat loan market dan ekonomi bullish saja. Tapi juga harus mikir dan berusaha bisa jadi bankir handal pada saat seperti masa pandemi ini. 

"Saya siap bantu restrukturisasi kredit macet perbankan bila dibutuhkan," katanya. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD