"Manajemen risiko tentunya di awal akan menentukan RAC. Jadi bisnis itu akan masuk ke segmen mana saja, kemudian subsegmen mana saja dengan RAC yang terukur dan terjaga. Ini penting sehingga kita punya pattern untuk masuk ke segmen-segmen yang memang kita yakini masih memiliki profitability yang baik ataupun juga dengan kualitas yang baik," kata Hery.
Di sisi lain, Hery menekankan bahwa kualitas pertumbuhan jauh lebih penting daripada sekadar mengejar volume pinjaman. Baginya, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset adalah tantangan nyata bagi para bankir di masa sulit seperti saat ini.
Dia mengingatkan bahwa pertumbuhan yang mengabaikan kualitas hanya akan menjadi bom waktu bagi perbankan di masa depan.
"Kita tentunya ingin tumbuh, tapi tumbuh dengan sehat, tumbuh dengan sustain (berkelanjutan). Kalau volumenya naik tapi kualitasnya tidak dijaga ya itu namanya nunggu waktu saja itu akan menuai badai di belakang hari. Di sinilah para bankir itu diuji, gimana caranya menjalankan bisnis di saat kondisi yang tidak terlalu kondusif," ujarnya.
Hingga kuartal I-2026, kualitas aset BRI menunjukkan tren perbaikan. Hal ini tercermin dari rasio Loan at Risk (LAR) yang berhasil ditekan ke angka 9,7 persen, turun dari posisi 11,1 persen pada periode yang sama tahun lalu. BRI berkomitmen untuk terus mengandalkan sistem early warning signal guna mendeteksi potensi risiko kredit sejak dini.
(Rahmat Fiansyah)