Menurut Ruth, pola kecemasan serupa kini diadopsi oleh pelaku pasar valas. Contohnya, para orang tua yang memiliki anak yang menempuh studi di luar negeri cenderung mempercepat pembelian dolar karena takut biaya hidup anak mereka akan membengkak.
Kondisi yang sama juga menjangkiti para pelaku usaha di sektor riil, khususnya para importir yang memiliki kewajiban pembayaran dalam mata uang asing.
Menurut dia, tren pelemahan rupiah memicu kalkulasi dini bahwa biaya operasional dan pelunasan barang ke depan akan membengkak signifikan jika dikonversi dari rupiah.
“Nasabahnya punya kewajiban membayar valuta asing karena dia impor, katakanlah gitu ya. Dengan tren pelemahan misalnya, dia langsung pikir nanti kalau rupiahnya melemah terus gimana gitu ya,” kata Ruth.