“Outflow dari pasar domestik masih terjadi sehingga menimbulkan tekanan terhadap permintaan dolar AS, khususnya untuk kebutuhan korporasi seperti pembayaran impor dan kewajiban utang,” kata Erwin.
Dalam kondisi tersebut, kata dia, Bank Indonesia juga memastikan kebutuhan valuta asing bagi pelaku usaha tetap terpenuhi, terutama untuk kegiatan ekonomi riil, bukan untuk aktivitas spekulatif.
Selain intervensi di pasar valas, BI juga terus menjaga kecukupan likuiditas rupiah melalui berbagai instrumen moneter, termasuk operasi pasar terbuka, repo, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Erwin menambahkan, upaya ini dilakukan untuk memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan dan sektor perbankan memiliki ruang yang cukup dalam menyalurkan pembiayaan.
Di sisi lain, Bank Indonesia juga terus memantau pergerakan pasar secara global dan domestik secara intensif, termasuk dinamika pasar NDF yang menjadi acuan awal pergerakan nilai tukar di pasar domestik.
Penulis: Nasywa Salsabila
(Dhera Arizona)