Segmen tabungan mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 22,32 persen YoY menjadi Rp173 triliun, di mana derasnya aliran dana murah tersebut berhasil menekan biaya dana (cost of fund/CoF) sebesar 49 basis poin ke level 2,19 persen.
"Kemampuan menghimpun dana menjadi keunggulan kompetitif yang sangat menentukan. Kerja yang sudah baik ini akan kami tingkatkan, sekaligus meningkatkan market share perbankan syariah di Indonesia," urai Anggoro.
Di fungsi intermediasi, BSI menyalurkan total pembiayaan sebesar Rp340 triliun, atau tumbuh 15,98 persen YoY dengan kualitas aset yang prima. Rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross berada di posisi 1,8 persen dan NPF net tercatat 0,33 persen, sedangkan cost of credit (CoC) mengalami perbaikan menjadi 0,62 persen.
Dalam kesempatan sama, Direktur Finance dan Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menambahkan bahwa di tengah persaingan likuiditas ketat yang berisiko menekan margin perbankan, perseroan memperkuat strategi diversifikasi melalui pendapatan berbasis komisi.
Sepanjang paruh pertama 2026, pos pendapatan non-margin ini melonjak 38,6 persen YoY hingga melampaui Rp4 triliun.