“Di tengah situasi likuiditas yang ketat, persaingan likuiditas akan berdampak terhadap tertekannya margin perbankan. Kami beruntung dengan nasabah yang banyak dan produk-produk unik syariah maupun emas, BSI bisa mendapatkan sumber revenue yang non-margin,” ujar Ade.
Lonjakan pendapatan non-margin tersebut salah satunya ditopang oleh kinerja bisnis emas yang tumbuh agresif, dengan nilai outstanding menembus Rp30,5 triliun atau melesat 80,52 persen YoY.
Selain transaksi emas, aktivitas treasury dan penguatan kanal digital turut memberikan andil besar, di mana pemanfaatan aplikasi BYOND by BSI mengerek pertumbuhan fee based income dari kanal elektronik lebih dari 35 persen.
Pada lini bisnis emas, jumlah nasabah tabungan emas tercatat melampaui 1,2 juta orang, sementara nasabah gadai emas menembus lebih dari 200.000 orang dan nasabah cicil emas berada di kisaran 600.000 orang.
Anggoro melanjutkan, pertumbuhan portofolio ini berjalan selaras dengan ekspansi akuisisi sekitar 1,1 juta nasabah baru pada semester I-2026, sehingga total basis nasabah BSI kini mencapai 24,3 juta orang.