AALI
9575
ABBA
244
ABDA
0
ABMM
2330
ACES
785
ACST
169
ACST-R
0
ADES
7050
ADHI
815
ADMF
8050
ADMG
172
ADRO
2920
AGAR
324
AGII
2060
AGRO
695
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
150
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1495
AKRA
1045
AKSI
300
ALDO
835
ALKA
294
ALMI
0
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/06/29 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
535.84
-0.33%
-1.77
IHSG
6974.58
-0.31%
-21.88
LQ45
1004.25
-0.34%
-3.39
HSI
22186.19
-1.04%
-232.78
N225
26759.99
-1.07%
-289.48
NYSE
14667.32
-1.13%
-167.98
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,835
Emas
868,327 / gram

Ekonom Ungkap Alasan BI Belum Normalisasi Suku Bunga Acuan

BANKING
Heri Purnomo
Jum'at, 17 Juni 2022 14:23 WIB
Saat ini inflasi di Indonesia masih dalam kisaran 3 hingga 4 persen, tentu untuk sampai saat ini, itu menjadi pertimbangan BI mempertahankan suku bunga acuan
Ekonom Ungkap Alasan BI Belum Normalisasi Suku Bunga Acuan (FOTO:MNC Media)
Ekonom Ungkap Alasan BI Belum Normalisasi Suku Bunga Acuan (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan ada beberapa pertimbangan bagi Bank Indonesia (BI) yang hingga saat ini belum menormalisasi suku bunga acuan.

Faktor utamanya, yakni inflasi fundamental, menurutnya kenaikan inflasi di Indonesia masih dipengaruhi oleh kenaiakan beberapa harga bahan pokok sehingga inflasi fundamental belum menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.

Hal itu terlihat dari adanya kenaikan harga  minyak goreng, dampak kenaikan harga pertamax, kenaikan transportasi udara dan kenaikan harga avtur. 

"Jadi itu memang lebih ke arah sisi supply side, bukan sisi inflasi fundamental, oleh sebab itu Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuannya," ujarnya dalam Market Review IDXChannel, Jumat (17/6/2022). 

Selain faktor inflasi fundamental yang belum menunjukkan tren signifikan. Josua mengatakan bahwa faktor inflasi yang masih terkendali juga menjadi faktor BI belum menormalisasi suku bunga acuan

"Saat ini inflasi di Indonesia masih dalam kisaran 3 hingga 4 persen, tentu untuk sampai saat ini, itu menjadi pertimbangan BI mempertahankan suku bunga acuan," katanya. 

Josua menambahkan bahwa dengan adanya kebijakan kenaikan gero wajib mininum pada 1 Juni 2022 merupakan langkah upaya menormalisasi liquitas di sektor keuangan atau perbankan. 

"kebijakan tersebut, nanti sekiranya inflasi fundamental itu sudah menunjukkan tren yang signifikan tentu saya pikir BI akan mulai menormalisasi kebijakan moneternya," katanya. 

Josua menambahkan, upaya pemerintah untuk tidak menaikan harga BBM bersubsidi yakni pertalite, gas elpiji 3 kg dan tarif listrik di bawah 3.000 volt dinilai langkah yang tepat dalam menekan laju inflasi. 

"Karena jika harga bbm pertalite, gas elpiji 3 kg dan tarif listrik di bawah 3.000 volt dinaikan tentu ini dampak inflasi akan lebih tinggi," pungkasnya. 

(SAN)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD