Hal ini berpotensi menyebabkan biaya dana (cost of fund) menjadi lebih mahal bagi perbankan nasional.
"Kalau asing tuh biasanya karena kita punya pinjaman atau instrumen yang kita keluarkan di luar negeri, yang kita jual di luar negeri, atau kita beli di luar negeri. Nah ini memerlukan rating," ungkap Nixon.
Lebih lanjut, Nixon memberikan ilustrasi bahwa secara umum peringkat kredit sebuah korporasi tidak akan bisa melampaui peringkat kredit negaranya. Jika peringkat negara turun, otomatis peringkat perusahaan di negara tersebut akan menyesuaikan ke bawah, yang berujung pada meningkatnya bunga yang diminta oleh investor.
"Kalau negara dulunya kira-kira Baa2 menjadi Ba2 atau dulunya BBB menjadi BB misalnya, maka ya pasti corporate rating juga sama. Nah terus dampaknya apa? Ya lagi kalau kita nerbitin surat utang, maka tawar-menawarnya menjadi lebih mahal," tuturnya.
Meskipun Moody's menurunkan outlook menjadi negatif, lembaga tersebut masih mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia pada level Baa2.