AALI
9900
ABBA
392
ABDA
0
ABMM
1465
ACES
1240
ACST
234
ACST-R
0
ADES
2850
ADHI
1035
ADMF
7725
ADMG
192
ADRO
1815
AGAR
340
AGII
1520
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
175
AHAP
67
AIMS
460
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
905
AKRA
4120
AKSI
420
ALDO
1050
ALKA
244
ALMI
234
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2021/12/02 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
504.81
1.33%
+6.61
IHSG
6547.72
0.62%
+40.04
LQ45
943.05
1.24%
+11.51
HSI
23713.36
0.23%
+54.44
N225
27750.67
-0.66%
-184.95
NYSE
16133.89
-1.13%
-185.08
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,350
Emas
821,360 / gram

Jangan Lengah, Begini Taktik Penjahat Siber Menipu Nasabah Perbankan

BANKING
Rina Anggraeni
Jum'at, 29 Oktober 2021 20:32 WIB
Cyber Security Researcher & Consultant Teguh Aprianto menjelaskan ada tiga cara penjahat siber memperoleh data pribadi seseorang, terutama nasabah perbankan. 
Jangan Lengah, Begini Taktik Penjahat Siber Menipu Nasabah Perbankan (Dok.MNC Media)
Jangan Lengah, Begini Taktik Penjahat Siber Menipu Nasabah Perbankan (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Maraknya penggunaan layanan perbankan melalui digital dihadapkan pada risiko kejahatan siber bagi nasabahnya.

Cyber Security Researcher & Consultant Teguh Aprianto menjelaskan ada tiga cara penjahat siber memperoleh data pribadi seseorang, terutama nasabah perbankan. 

Adapun,informasi awal seseorang seperti nama, nomor handphone, email, dan tanggal lahir, bukan lagi hal yang sulit dicari di internet.

"Sebenarnya praktik mencari data seseorang melalui sumber terbuka seperti media sosial, yang juga sudah dilakukan wartawan investigasi maupun penegak hukum," kata Teguh dalam video virtual, Jumat (29/10/2021).

Selain itu, para penipun memerhatikan nasabaha yang menjadi targetnya Hal ini diketahui karena orang tersebut pernah bertanya secara terbuka kepada Customer Service (CS) bank di media ssial.

"Stalking (diam-diam memantau media sosial seseorang) itu juga termasuk mencari lewat osint," katanya.

Dia menambahkan saat ini terjadi kenaikan kejahatan siber dengan modus rekayasa sosial (social engineering) selama pandemi.

“Situasi pandemi saat ini secara tidak langsung mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengadopsi teknologi untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk kebutuhan perbankan. Sayangnya, hal ini diikuti dengan meningkatnya kejahatan siber yang mengintai para pengguna platform digital, salah satunya yang marak terjadi adalah dengan modus social engineering," katanya.

Oleh karena itu, sebagai pengguna layanan, terutama dalam ranah digital, nasabah juga harus lebih berhati-hati saat menerima telepon, pesan singkat, ataupun pesan melalui media sosial yang mengaku dari pihak bank tertentu yang meminta data-data atau informasi bersifat pribadi dan rahasia, atau mengklik suatu tautan tertentu.

"Penyedia layanan bertanggungjawab untuk menjaga keamanan data dan dana nasabah, namun nasabah juga perlu waspada untuk turut melindungi data milik mereka agar tidak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab," tandasnya.

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD