Pemerataan akses permodalan di daerah turut digerakkan lewat instrumen pembiayaan terarah yang dirancang untuk membentengi pelaku usaha mikro. Skema kredit ini disalurkan secara terukur guna menekan praktik lintah darat sekaligus mendorong produktivitas sektor-sektor unggulan.
"Program Kredit Pembiayaan Melawan Rentenir telah menyalurkan Rp64,8 triliun kepada 2,3 juta debitur. Kemudian kredit pembiayaan sektor prioritas mencapai Rp5,4 triliun kepada lebih dari 103.000 debitur," tutur Friderica.
Selain menyasar pelaku usaha, penguatan inklusi ditanamkan sejak dini melalui program Satu Rekening Satu Pelajar (SimPel) yang menggandeng bank nasional dan bank daerah. Fasilitas tabungan bersyarat ringan dengan setoran awal Rp5.000 ini turut disosialisasikan secara langsung ke institusi pendidikan, termasuk Sekolah Rakyat.
Akselerasi pembiayaan inklusif tersebut makin diintensifkan lewat realisasi penyaluran modal kerja dalam tiga bulan berturut-turut. Langkah konkret ini menjangkau jutaan masyarakat produktif di akar rumput guna mempercepat pemerataan kesejahteraan daerah.
"Untuk khusus program ini, dari mulai bulan Agustus, September, Oktober sudah terjadi pemberian kredit pembiayaan kepada 2.100.000 penerima sebesar Rp53 triliun," kata Friderica.
(NIA DEVIYANA)