Dana murah (CASA) menjadi salah satu penopang utama. CASA melonjak 40,6 persen yoy menjadi Rp59 triliun, dengan rasio meningkat dari 35,7 persen menjadi 44,1 persen.
Lonjakan ini mendorong efisiensi biaya dana di tengah tren suku bunga yang masih fluktuatif. “Peningkatan CASA memperkuat struktur pendanaan dan mendukung efisiensi biaya dana,” kata Henoch.
Kontribusi anak usaha turut menopang kinerja. BTPN Syariah mencatat laba bersih Rp319 miliar, tumbuh 2,8 persen yoy, sementara Grup OTO membukukan Rp113 miliar, melonjak 45,5 persen yoy.
SMBC Indonesia mengandalkan diversifikasi bisnis dari perbankan digital, pembiayaan syariah, pembiayaan kendaraan, hingga segmen korporasi dan komersial untuk menjaga keseimbangan portofolio.
Dari sisi ketahanan, rasio likuiditas dan permodalan tetap kuat. Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat 260,24 persen, Net Stable Funding Ratio (NSFR) 122,71 persen, dan Capital Adequacy Ratio (CAR) 29,63 persen.