AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

Literasi Perbankan Syariah RI Rendah, Hanya 11 Persen

BANKING
Dinar Fitra Maghiszha
Minggu, 17 April 2022 09:01 WIB
Idustri perbankan syariah di Indonesia memiliki hambatan utama dalam pengembangan, yakni tingkat literasi yang sangat rendah.
Literasi Perbankan Syariah RI Rendah, Hanya 11 Persen (FOTO: MNC Media)
Literasi Perbankan Syariah RI Rendah, Hanya 11 Persen (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Idustri perbankan syariah di Indonesia memiliki hambatan utama dalam pengembangan, yakni tingkat literasi yang sangat rendah hanya mencapai 11 persen.

Direktur Penjualan dan Distribusi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI, Anton Sukarna memaparkan bahwa literasi merupakan masalah utama perbankan syariah. Ia menilai pengetahuan masyarakat terhadap perbankan syariah masih lebih rendah dibandingkan perbankan konvensional.

"Sebagai perbandingan saja, kalau untuk di perbankan konvensional, itu sudah di atas 30 persen orang paham, sementara di perbankan syariah, itu baru 11 persen," kata Anton di pembukaan Istiqlal Halal Expo 2022, di pelataran Masjid Istiqlal, dikutip Minggu (17/4/2022).

Menurut Anton terdapat jarak antara pengetahuan masyarakat seputar bank syariah dengan penetrasi syariah yang ada di lapangan. Namun, menurutnya gap itu terpaut tipis.

"Jadi kalau kita bicara misalnya, literasi syariahnya 11 persen, maka penetrasinya ada di 8-9 persen," lanjutnya.

Padahal, terang Anton, literasi syariah menjadi modal utama untuk memacu industri syariah, termasuk industri halal dan turunannya.

Anton memandang sebagian besar masyarakat belum memiliki keinginan kuat untuk mempelajari seputar lembaga keuangan syariah, meskipun Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

"Saya yakin, bahwa orang ketika ingin membeli produk syariah, atau produk halal, dan orang itu punya keyakinan tentang itu, akan cenderung bertanya tentang sesuatu, atau mempelajarinya terlebih dahulu," ucapnya.

Sementara terkait produk non-syariah atau yang tidak memiliki jaminan kehalalan dinilai seringkali bukan menjadi masalah bagi masyarakat. Alih-alih bertanya, sebagian masyarakat disebut cenderung abai atas hal itu.

"Untuk produk yang tidak ada kaitannya dengan syariah atau kehalalan, orang cenderung abai tentang hal itu. Sehingga tanpa tahu pun (halal atau tidak), orang akan cenderung membeli," jelasnya.

Anton memastikan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) akan terus mengejar masalah ini agar dapat teratasi, atau minimal mengalami perubahan di masa depan.

Dirinya mengharapkan Indonesia dapat menjadi produsen produk halal nomor satu di tingkat global.

"Bagian fundamental dari keberadaan BSI adalah terkait syiar, perbankan syariah, ekonomi syariah, dan tentu saja syiar terkait dengan produk halal. Inshaallah, kesadaran orang yang membeli produk halal akan meningkat," tutupnya. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD