AALI
9875
ABBA
324
ABDA
6600
ABMM
1435
ACES
1270
ACST
192
ACST-R
0
ADES
3410
ADHI
835
ADMF
7625
ADMG
182
ADRO
2270
AGAR
348
AGII
1400
AGRO
1250
AGRO-R
0
AGRS
157
AHAP
69
AIMS
362
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1115
AKRA
795
AKSI
705
ALDO
1300
ALKA
304
ALMI
288
ALTO
242
Market Watch
Last updated : 2022/01/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.87
-1.14%
-5.85
IHSG
6655.17
-1.06%
-71.21
LQ45
949.49
-1.07%
-10.27
HSI
24656.46
-1.24%
-309.09
N225
27588.37
0.24%
+66.11
NYSE
16397.34
-1.6%
-266.43
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,343
Emas
847,156 / gram

Merger dan Akusisi Bank Digital Diprediksi Berlanjut di 2022

BANKING
Hafid Fuad
Rabu, 29 Desember 2021 13:08 WIB
Proses merger dan akuisisi bank digital diperkirakan masih akan berlanjut pada 2022 mendatang.
Merger dan Akusisi Bank Digital Diprediksi Berlanjut di 2022. (Foto: MNC Media)
Merger dan Akusisi Bank Digital Diprediksi Berlanjut di 2022. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Proses merger dan akuisisi bank digital diperkirakan masih akan berlanjut pada 2022 mendatang. Hal ini menyusul naiknya nilai transaksi yang terjadi di era digitalisasi sejak berlangsungnya masa pandemi Covid-19.

Para investor melihat besarnya potensi pertumbuhan bisnis sehingga harga saham sejumlah bank digital terus naik sejak awal tahun 2021. Harga emiten-emiten bank digital telah jauh melampaui nilai bukunya atau price to book value ratio (PBVR). 

Pengamat ekonomi, Kiryanto. mengatakan perkembangan bank digital hingga ramainya merger dan akuisisi merupakan hal yang alami karena digerakkan permintaan dan penawaran. Di satu sisi perbankan ingin mereposisi bisnis untuk menyambut bisnis era pasca pandemi. Sementara di sisi lain masyarakat memiliki simpanan yang ingin diinvestasikan.

"Merger dan akuisisi Bank akan terus berlanjut. Ini semua karena bank sifatnya market driven atau selera pasar yang mendikte," ujar Kiryanto dalam live IDX Channel di Jakarta (29/12/2021).

Dia menjelaskan para pemilik bank sadar kini sudah tidak bisa sekedar bertahan dengan modal inti Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun saja. Karena tren batas modal perbankan akan naik terus bahkan hingga Rp10 triliun nantinya.

"Mau tidak mau bank harus cari modal sendiri, cari investor baru atau berkolaborasi," jelasnya.

Kemudian dia juga melihat motivasi para investor injeksi modal ke bank kedepannya tentu demi memperoleh keuntungan dari leveraging yang bisa dilakukan bank digital.

"Ekspektasinya nanti di masa depan akan terjadi bank full digital. Saat ini mungkin masih terdapat semi digital tapi nanti generasi post milenial diperkirakan akan memiliki selera serba digital," katanya.

Di Indonesia, layanan keuangan secara daring atau non fisik kian digemari. Hal ini terlihat dari terus tumbuhnya transaksi secara digital di banyak perbankan. Di sisi lain, transaksi perbankan secara fisik tercatat terus mengalami penyusutan. Pengurangan jumlah kantor cabang bank pun tidak terelakkan. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD