Dalam sesi tersebut, mahasiswa baru dibekali pemahaman mengenai tiga aspek utama literasi keuangan dan keamanan digital, yakni mengenali ciri dan tanda bahaya produk keuangan ilegal, mewaspadai modus rekayasa sosial (social engineering) yang mengincar data sensitif seperti PIN dan kode OTP, serta menerapkan strategi pengelolaan uang kiriman secara bijak agar terhindar dari perilaku konsumtif.
Financial Planner, Rista Zwestika juga mengingatkan mahasiswa untuk mulai mengatur keuangan sejak dini dengan menetapkan prioritas dan menyisihkan dana sesuai kemampuan.
“Mahasiswa tidak perlu menunggu memiliki penghasilan besar untuk mulai mengatur keuangan. Biasakan menyusun prioritas, mengelola uang sesuai kebutuhan, dan menyisihkan dana sejak awal. Begitu pula saat memilih produk keuangan atau berinvestasi, pastikan setiap keputusan didasarkan pada tujuan, manfaat, risiko, dan kemampuan, bukan sekadar mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO),” katanya.

Program edukasi Fintech Academy by OVO terus memperluas jangkauannya di lingkungan perguruan tinggi. Sepanjang 2026, program tersebut telah hadir di Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sebelas Maret, dan Universitas Padjadjaran dengan total lebih dari 10.400 mahasiswa. Program ini akan berlanjut ke tiga perguruan tinggi lainnya dengan target tambahan 600 mahasiswa sepanjang 2026. Dengan demikian, total partisipan Fintech Academy sejak pertama kali diluncurkan pada 2021 akan mencapai lebih dari 16.000 mahasiswa di seluruh Indonesia.
Melalui kolaborasi dengan MoneyFestasi, OVO berharap edukasi tersebut dapat membantu mahasiswa membangun kebiasaan finansial yang sehat serta memanfaatkan layanan digital secara bijak dan bertanggung jawab seiring meningkatnya kebutuhan terhadap berbagai layanan keuangan di era digital.
(Rahmat Fiansyah/ADV)