AALI
9425
ABBA
288
ABDA
6050
ABMM
2450
ACES
730
ACST
194
ACST-R
0
ADES
6125
ADHI
805
ADMF
8175
ADMG
175
ADRO
3160
AGAR
318
AGII
2200
AGRO
815
AGRO-R
0
AGRS
113
AHAP
99
AIMS
262
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1540
AKRA
1185
AKSI
270
ALDO
755
ALKA
300
ALMI
296
ALTO
191
Market Watch
Last updated : 2022/08/15 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
535.36
-0.62%
-3.33
IHSG
7093.28
-0.51%
-36.00
LQ45
1005.79
-0.62%
-6.25
HSI
20040.86
-0.67%
-134.76
N225
28871.78
1.14%
+324.80
NYSE
0.00
-100%
-15602.90
Kurs
HKD/IDR 185
USD/IDR 14,685
Emas
840,341 / gram

Restrukturisasi Kredit Berakhir, BRI Lakukan Ini Sebagai Antisipasi

BANKING
Anggie Ariesta
Rabu, 03 Agustus 2022 13:50 WIB
kebijakan berupa pemberian restrukturisasi kredit tersebut diketahui bakal segera berakhir pada 2023 mendatang.
Restrukturisasi Kredit Berakhir, BRI Lakukan Ini Sebagai Antisipasi (foto: MNC Media)
Restrukturisasi Kredit Berakhir, BRI Lakukan Ini Sebagai Antisipasi (foto: MNC Media)

IDXChannel - Langkah pemerintah melonggarkan kebijakan kredit perbankan seiring terjadinya pandemi COVID-19 terbukti dapat menopang industri tersebut untuk dapat terus bertahan dengan kinerja yang positif hingga saat ini.

Namun demikian, kebijakan berupa pemberian restrukturisasi kredit tersebut diketahui bakal segera berakhir pada 2023 mendatang. Hal ini diperkirakan bakal cukup berpengaruh terhadap catatan kinerja kredit perbankan nasional pasca ketentuan kredit kenbali seperti saat sebelum pandemi.

Guna mengatasinya, para pelaku perbankan pun kini cukup sibuk dalam meningkatkan alokasi pencadangan sebagai salah satu upaya mitigasi. Tak hanya itu, langkah ini dilakukan juga untuk mengamankan performa kredit yang dimilki, sehingga pengaruhnya terhadap kualitas aset dapat relatif terjaga.

Seperti yang dilakukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Menurut Direktur Utama BRI, Sunarso, pihaknya juga telah menyiapkan pencadangan atas pemburukan kredit apabila kebijakan restrukturisasi akibat COVID-19 dicabut OJK pada Maret tahun depan. BRI mengantisipasi agar rasio kredit bermasalah pasca berakhirnya kebijakan restrukturisasi tidak membengkak.

“Jika terjadi apa-apa dengan NPL, NPL coverage kami 266,26 persen (semester I-2022). Kami sediakan 2,66 kali cadangan terhadap NPL, jika NPL tidak terbayar, deposan masih aman karena kami cadangkan di modal 2,66 kali. Coverage ini meningkat dibandingkan semester I-2021 yang sebesar 2,53 kali,” unjar Sunarso, saat dihubungi, Selasa (2/8/2022).

Pada semester I-2022, NPL gross BRI Group berads di level 3,26 persen. Sebagai bank yang fokus pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), angka NPL ini cenderung terjaga mengingat risiko dari UMKM juga tinggi. 

“Lebih dari 80 persen portofolio kami di UMKM, dengan NPL terjaga di kepala tiga. Ini bisa dikatakan sangat manageable. Karena main di segmen UMKM itu berurusan dengan tingginya NPL, dengan dikelola pada kepala 3 artinya risk management berjalan dengan baik,” jelas Sunarso.

Sebelumnya, mitigasi risiko juga telah dilakukan oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Direktur Utama BMRI, Darmawan Junaidi, menuturkan bahwa pihaknya berhasil menjaga perbaikan kredit lewat monitoring serta manajemen risiko yang ketat. Hingga pertengahan tahun 2022 posisi rasio NPL Bank Mandiri turun menjadi 2,47 persen.

Tidak hanya itu, berkat optimalisasi kualitas aset serta efisiensi, biaya kredit atau cost of credit (CoC) Bank Mandiri pun berhasil ditekan menjadi 1,27 persen pada semester I-2022.

"Dalam menjaga kualitas aset, Bank Mandiri telah menjalankan proses mitigasi dengan menerapkan prinsip kehati-hatian termasuk menjaga rasio pencadangan dalam posisi yang mencukupi," ujarnya, saat dikonfirmasi Selasa (2/8/2022).

Hingga akhir Juni 2022 posisi restrukturisasi kredit terdampak COVID-19 di Bank Mandiri kian melandai menjadi Rp58,2 triliun. Jumlah tersebut sudah jauh lebih rendah dari posisi Juni 2021 sebesar Rp 96,5 triliun.

Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri, Ahmad Siddik Badruddin, mengatakan penurunan ini didorong oleh pelunasan dan pembayaran cicilan para debitur, dan bisnis usaha para debitur sudah kembali pada kondisi normal. Sehingga, para debitur tersebut memutuskan untuk menyelesaikan program restrukturisasinya.

Selain itu, perseroan akan terus mengurangi restrukturisasi hingga akhir tahun. Sebab, sesuai aturan OJK relaksasi tersebut akan berakhir pada Maret 2023. Jika relaksasi tersebut tidak akan diperpanjang, perseroan sudah siap.

"Dari total portofolio kredit, LAR include restrukturisasi turun 15,12% dari total portofolio dan akan turun 14-15% sampai akhir tahun. Kami sudah siap apabila kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit tidak diperpanjang oleh OJK," pungkasnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri telah memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 8,5 persen pada 2023. Hal ini seiring pemulihan ekonomi yang sudah terlihat pada tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, mengatakan bahwa jumlah debitur dan kredit yang direstrukturisasi terus menurun. Kredit yang direstrukturisasi akibat pandemi dari jumlah nilai dan debitur juga terus menurun dalam jumlah signifikan.

Hal sama juga terjadi dengan catatan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dari kredit restrukturisasi itu yang mengalami tren penurunan. 

"Sedangkan rasio CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) yang untuk restrukturisasi sebaliknya terus meningkat. Ini kapasitas bank untuk melakukan itu (pencadangan) terus meningkat dan membaik,” kata Mahendra, dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (1/8/2022). (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD