AALI
9925
ABBA
290
ABDA
7000
ABMM
1380
ACES
1275
ACST
194
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
840
ADMF
7625
ADMG
188
ADRO
2310
AGAR
364
AGII
1390
AGRO
1325
AGRO-R
0
AGRS
163
AHAP
70
AIMS
362
AIMS-W
0
AISA
175
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1100
AKRA
800
AKSI
755
ALDO
1375
ALKA
314
ALMI
288
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2022/01/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.72
1.77%
+8.94
IHSG
6726.37
1.5%
+99.50
LQ45
959.76
1.74%
+16.42
HSI
24935.43
-0.07%
-16.92
N225
27522.26
-0.9%
-250.67
NYSE
16663.77
-0.92%
-155.21
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,345
Emas
847,450 / gram

Siap Garap Pasar Digital, Intip Prospek BRIS Pasca Merger

BANKING
Shifa Nurhaliza
Sabtu, 04 Desember 2021 12:10 WIB
Prospek BRIS Pascamerger atau PT Bank Syariah Indonesia (BSI) dapat dinilai dari kinerja perusahaan yang meningkat
Siap Garap Pasar Digital, Intip Prospek BRIS Pasca Merger. (Foto: Prospek BRIS Pasca Merger)
Siap Garap Pasar Digital, Intip Prospek BRIS Pasca Merger. (Foto: Prospek BRIS Pasca Merger)

IDXChannel - Prospek BRIS Pascamerger atau PT Bank Syariah Indonesia (BSI) dapat dinilai dari kinerja perusahaan yang secara signifikan meningkat. Hal ini ditopang oleh kemampuan hasil merger tiga bank syariah milik BUMN dalam menggarap potensi ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air, khususnya pasar pembiayaan ritel dan wholesale.

BSI atau emiten berkode saham BRIS merupakan hasil penggabungan dari tiga bank syariah besar di Indonesia yaitu PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah dengan kinerja masing-masing bank yang sangat baik. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar, tentunya memiliki potensi yang besar juga untuk menjadi pemilik bank syariah terbesar di dunia.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Januari 2021 total aset keuangan syariah yang tercatat hanya sekitar 9,6% dari total industri pasar keuangan di Indonesia. Adapun aset perbankan syariah juga hanya tercatat 6,4% terhadap total aset industri perbankan yang ada di Indonesia.

Melalui merger tiga bank syariah BUMN ini, BSI atau BRIS saat ini memiliki aset lebih dari Rp200 triliun bahkan sudah mulai mendekati angka Rp250 triliun. Kekuatan modal ini tentunya terintegrasi dalam satu entitas bisnis yang jauh lebih kokoh dari sebelum adanya merger.

Potensi pengembangan bisnis BRIS dinilai akan lebih baik lagi jika rencana penambahan modal yang akan dilakukan BSI dapat terealisasi. Saat ini BRIS juga sudah memiliki basis teknologi yang cukup menopang dalam menggarap pasar digital banking. 

Pasca mereger tiga bank syariah BUMN ini, potensi pasar populasi muslim nasional sangat besar dan dinilai akan mampu digarap secara optimal usai integrasi jaringan secara menyeluruh dilakukan. Sekadar diketahui, Indonesia memiliki populasi muslim sekitar 80% dari banyaknya jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa.

Meski begitu, banyak juga nyatanya masyarakat non-muslim yang merasa cukup nyaman dengan model pembiayaan bank syariah, dan tentunya hal ini akan menjadi target pasar yang menjanjikan. Terkait potensi bisnis BRIS yang besar, Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan bahwa berdasarkan data proyeksi OJK dalam pertemuan tahunan jasa keuangan 2021 dan riset internal BSI, pertumbuhan ekonomi syariah berada di kisaran 2,4% hingga 3,7% secara nasional.

Kemudian, adapun pembiayaan dan penghimpunan dana pihak ketiga diproyeksikan tumbuh sekitar 13% hingga 18%, serta kualitas pembiayaan sekitar 3% hingga 3,5%. Propsek BRIS pasca merger tentunya tetap optimistis dengan jumlah populasi penduduk muslim Indonesia yang besar dan tentunya menjadi kekuatan dan target penetrasi ekonomi syariah.

Dalam waktu dekat, seluruh jaringan BRIS akan ditargetkan sudah terintegrasi dengan single sistem atau one system. Dimana pada proses integrasi tersebut akan terdiri dari pemindahan nasabah, layanan kartu ATM, bahkan pemindagan layanan perbankan menjadi perbankan digital.

Sekadar informasi, hingga bulan Juni 2021 total pembiayaan yang disalurkan oleh BRIS yakni sebesar Rp161,1 triliun. Jumlah tersebut meningkat sekitar 11% jika dibandingkan pada periode yang sama di tahun 2020 sebesar Rp144,5 triliun. Porsi terbesar dari pembiayaan tersebut disumbang dari segmen konsumer perusahaan yang tercatat sebesar Rp75 triliun, atau setara dengan 46,5% dari total pembiayaan. (SNP)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD