sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Survey Sun Life: 73 Persen Bisnis Keluarga di Asia Belum Siapkan Penerus

Banking editor Iqbal Dwi Purnama
29/11/2025 10:08 WIB
Berdasarkan survey, 25 persen pemilik usaha baru memiliki sebagian rencana, 24 persen masih dalam proses penyusunan, dan 19 persen belum memiliki rencana
Survey Sun Life: 73 Persen Bisnis Keluarga di Asia Belum Siapkan Penerus (FOTO:Dok Sun Life)
Survey Sun Life: 73 Persen Bisnis Keluarga di Asia Belum Siapkan Penerus (FOTO:Dok Sun Life)

IDXChannel -  Bisnis keluarga merupakan sebuah pilar penting bagi perekonomian Asia. Namun, ada fakta unik terungkap, mayoritas dari pemilik bisnis usaha tersebut belum memiliki penerus.

Survei terbaru Sun Life Asia 94 persen keluarga pemilik usaha mengaku berniat menyusun pengaturan warisan yang menyeluruh, faktanya hanya 27 persen yang benar-benar memiliki rencana penerus usaha yang lengkap. Artinya, sebagaian besar bisnis keluarga di Asia belum memiliki penerus yang jelas.

Padahal, usaha keluarga adalah nadi perekonomian Asia. Sebanyak 85 persen perusahaan di Asia Pasifik dimiliki keluarga, dan 97 persen UKM yang menopang ekonomi kawasan juga berada dalam struktur tersebut.

Tak hanya itu, Asia menyumbang 18 persen dari 500 perusahaan keluarga terbesar di dunia yang menggambarkan besarnya risiko bila isu suksesi tak ditangani dengan serius.

"Peralihan kekayaan lintas generasi dalam skala besar sudah berlangsung di Asia, sehingga penting bagi para pemilik usaha untuk mempersiapkan masa depan dan menjaga warisan mereka," kata Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia Maika Randini dalam keterangannya, Sabtu (29/11/2025).

Berdasarkan surveynya, sebanyak 25 persen pemilik usaha baru memiliki sebagian rencana, 24 persen masih dalam proses penyusunan, dan 19 persen belum memiliki rencana apa pun meski berniat membuatnya.

Tantangan terbesar terlihat di Vietnam, di mana hanya 14 persen yang memiliki rencana penerus usaha terstruktur, dibandingkan 39 persen di Indonesia, tertinggi di antara negara yang disurvei. Di Hong Kong, hanya 20 persen yang memiliki rencana lengkap, sementara di Singapura angkanya mencapai 28 persen.

Di antara penerus keluarga yang terlibat dalam operasional bisnis, hanya 44 persen yang menyatakan generasi sebelumnya telah mengomunikasikan rencana warisan secara menyeluruh. Komunikasi ini bahkan lebih jarang terjadi pada keluarga yang penerusnya tidak terlibat dalam bisnis, turun menjadi hanya 27 persen.

Rapat keluarga formal menjadi forum paling umum untuk membahas warisan (57 persen), diikuti percakapan formal satu lawan satu (52 persen) dan diskusi informal (43 persen). Saat ditanya forum ideal, responden tetap memilih rapat keluarga formal sebagai yang utama.

Meskipun banyak yang belum memiliki rencana penerus usaha terstruktur, 69 persen pemilik usaha menempatkan perlindungan keuangan keluarga sebagai prioritas utama dalam perencanaan warisan. 

Sebanyak 54 persen menganggap penting memiliki rencana warisan yang jelas untuk menghindari kebingungan atau perselisihan, sementara 51 persen menekankan perlunya membangun kekayaan yang cukup bagi generasi berikutnya.

Lebih dari dua pertiga responden (68 persen) berharap kekayaan yang diwariskan dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan jangka panjang, baik melalui investasi di aset keuangan, asuransi jiwa, maupun pengembangan usaha keluarga.

"Banyak keluarga belum siap menghadapi masa depan, meski memahami pentingnya rencana penerus usaha yang terstruktur. Ini menjadi peluang besar bagi pemilik usaha untuk memperkuat fondasi masa depan, namun banyak yang masih menghadapi risiko yang tidak perlu," kata Maika.

Sun Life juga menemukan adanya jurang generasi yang berpotensi menghambat keberlanjutan bisnis keluarga. Hanya 40 persen pemilik usaha yang yakin generasi berikutnya bersedia melanjutkan usaha. Di kalangan penerus keluarga yang tidak terlibat operasional, angkanya bahkan hanya 31 persen.

Alasan enggan mengambil alih usaha keluarga cukup beragam. Keinginan untuk tetap mandiri menjadi faktor terbesar (50 persen), disusul rasa takut menghadapi tanggung jawab (42 persen), kurangnya minat (28 persen), serta perbedaan nilai atau visi (27 persen).

"Usaha keluarga di Asia berada pada titik krusial akibat perbedaan generasi yang semakin lebar. Generasi muda kini mengutamakan kemandirian, tujuan, dan keseimbangan hidup. Pemilik usaha perlu memperkuat rencana penerus usaha dan membuka ruang dialog mengenai masa depan," ujar Maika.

Kurang dari separuh pemilik usaha keluarga tercatat pernah mencari nasihat perencanaan keuangan. Dari yang telah atau berniat melakukannya, sebanyak 61 persen menilai keahlian profesional sebagai faktor utama dalam memilih konsultan, disusul kemampuan merencanakan kebutuhan lintas generasi (52 persen) dan pendekatan personal (49 persen).

Sebanyak 36 persen responden memilih layanan ahli individual, 23 persen menginginkan layanan family office yang melibatkan beberapa ahli, sementara 32 persen menggabungkan keduanya.

"Temuan kami menunjukkan bahwa pemilik usaha keluarga membutuhkan wawasan profesional yang mendalam dan pendekatan jangka panjang yang disesuaikan. Baik layanan ahli individual maupun family office memiliki tempatnya masing-masing. Nasihat yang proaktif dapat membantu pemilik usaha mencapai tujuan penerus usaha, mencegah konflik, dan menjaga warisan keluarga," ujar Maika. 

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement