Berdasarkan data Refinitiv pada perdagangan hari ini, mata uang Garuda sempat melemah sekitar 1,15 persen hingga menembus level Rp17.660 per Dolar AS. Perry menjelaskan depresiasi ini dipicu oleh tingginya eskalasi ketidakpastian global, mulai dari berkecamuknya konflik bersenjata di Timur Tengah, lonjakan harga minyak mentah dunia, hingga sikap Bank Sentral AS (The Fed) yang mempertahankan suku bunga tinggi (Fed Fund Rate).
Dari sisi domestik, pelemahan makin diperberat oleh siklus tahunan di mana permintaan valuta asing (valas) melonjak tajam akibat musim pembagian dividen korporasi, jadwal pembayaran utang luar negeri, hingga pemenuhan kebutuhan dana untuk musim haji.
“Tiap tahun tertekan pada Mei dan Juni karena demand tinggi,” kata Perry.
Meski saat ini berfluktuasi di kisaran Rp17.600-an per dolar AS, Perry tetap optimistis rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun berjalan akan mampu mencapai level Rp16.800 per dolar AS. Angka tersebut merupakan batas atas dari kalkulasi nilai fundamental kurs yang telah dirumuskan BI dalam penyusunan APBN 2026.
Perry menjabarkan secara fundamental, rata-rata target nilai tukar yang ditetapkan BI sebesar Rp16.500 per dolar AS, dengan rentang batas bawah pada level Rp16.200 dan batas atas di level Rp16.800.