IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin(18/5/2026), turun 71 poin atau sekitar 0,40 persen ke level Rp17.667,5 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa sentimen datang dari global yaitu penguatan dolar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama.
“Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi, mendorong inflasi semakin jauh dari target 2 persen The Fed,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Selain itu, upaya untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran tampaknya telah terhenti, setelah pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab diserang dan karena Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan membahas opsi militer terhadap Iran. Pembicaraan pekan lalu antara Trump dan Presiden China Xi Jinping berakhir tanpa indikasi dari importir minyak terbesar di dunia bahwa hal itu akan membantu menyelesaikan konflik.
Serangan drone di UEA dan Arab Saudi serta retorika dari AS dan Iran menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik. Para pejabat UEA mengatakan mereka sedang menyelidiki sumber serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah dan bahwa UEA memiliki hak penuh untuk menanggapi "serangan teroris" semacam itu.